5 Hadits Tentang Mempersulit dan Menyusahkan Orang Lain

Jawaban singkat: mempersulit atau menyusahkan urusan orang lain termasuk perbuatan yang diancam keras dalam hadits. Lima riwayat di bawah ini menyebut pelakunya akan dipersulit Allah pada hari kiamat, diberi kemudaratan yang setimpal, didoakan keburukan oleh Rasulullah, kehilangan pertolongan Allah saat ia sendiri susah, hingga datang ke akhirat sebagai orang yang bangkrut.

Seorang muslim sudah seharusnya senantiasa mempermudah urusan orang lain. Rasulullah Saw. dalam banyak haditsnya justru menjelaskan betapa besar ancaman yang akan diterima siapa saja yang malah menyulitkan urusan sesamanya.

Berikut kumpulan hadits tentang mempersulit dan menyusahkan orang lain beserta teks Arab, terjemahan, dan penjelasannya. Anda bisa menjadikannya rujukan untuk menyusun kultum, ceramah, maupun sekadar pengingat bagi diri sendiri.

1. Akan Dipersulit Allah pada Hari Kiamat

وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقِ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang menyulitkan (orang lain) maka Allah akan mempersulitnya pada hari Kiamat.” (HR Bukhari)

Sebagai makhluk sosial, sesama manusia pasti saling membutuhkan. Pengusaha butuh karyawan, murid butuh guru, pedagang butuh pembeli. Dalam setiap hubungan itu seorang muslim tidak boleh mempersulit urusan saudaranya.

Misalnya, bila Anda seorang dosen pembimbing, jangan menyulitkan mahasiswa bimbingan Anda dengan sengaja sulit ditemui atau bersikap berlebihan. Bila Anda seorang dokter, permudahlah urusan pasien Anda. Siapa saja yang mempersulit urusan orang lain, Allah akan mempersulitnya kelak di hari kiamat.

2. Diberi Kemudaratan yang Setimpal

مَنْ ضَارَّ مُسْلِمًا ضَارَّهُ اَلله, وَمَنْ شَاقَّ مُسَلِّمًا شَقَّ اَللَّهُ عَلَيْهِ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ.

“Barangsiapa yang memberi kemudharatan kepada seorang muslim, maka Allah akan memberi kemudharatan kepadanya, barangsiapa yang merepotkan (menyusahkan) seorang muslim maka Allah akan menyusahkan dia.” (HR Abu Dawud)

Tidak jauh berbeda dengan hadits pertama, di sini Rasulullah kembali menegaskan larangan menyusahkan sesama muslim. Bagi Anda yang sengaja menyulitkan urusan orang lain, bersiaplah akan dibuat susah oleh Allah Swt.

Adapun kapan waktunya akan disusahkan oleh Allah? Wallaahu A’lam, bisa jadi di kehidupan dunia sekarang, bisa jadi nanti di akhirat.

Baris takhrij pada riwayat di atas menyebut riwayat ini dikeluarkan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi menilainya hasan.

3. Didoakan Keburukan oleh Rasulullah

عن عائشة رضي الله عنها قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول في بيتي هذا: اللهم من وَلِيَ من أمرِ أمتي شيئًا فشَقَّ عليهم فاشقُقْ عليه، ومن وَلِيَ من أمر أمتي شيئًا فرفَق بهم فارفُقْ به.

Dari Aisyah R.A dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda ketika sedang berada di rumahku, ‘Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku kemudian dia merepotkan umatku maka susahkanlah dia.’” (HR Muslim)

Dengan sangat jelas, dalam riwayat shahih ini Baginda Saw. berdoa kepada Allah untuk melimpahkan kesulitan kepada siapa saja yang memegang kewenangan mengurusi urusan umat, lalu justru membuat kebijakan zalim yang mencekik.

Dalam konteks zaman sekarang, doa ini lazim dipakai untuk mendoakan penguasa zalim. Namun cakupannya tidak terbatas pada pejabat negara. Siapa pun yang diberi amanah mengurus hajat orang banyak — atasan di tempat kerja, panitia, maupun petugas layanan — masuk dalam ancaman yang sama bila ia sengaja mempersulit.

4. Kehilangan Pertolongan Allah saat Kesulitan

عن أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ :مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membantu seorang muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada hari kiamat. Dan barangsiapa meringankan (beban) seorang muslim yang sedang kesulitan maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat.” (HR Muslim)

Sekilas hadits ini berbicara tentang membantu, bukan tentang menyulitkan. Justru di situlah letak peringatannya. Hadits semacam ini memiliki mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan): jika yang meringankan beban orang lain akan ditolong Allah, maka yang justru menambah berat beban orang lain layak kehilangan pertolongan itu ketika ia sendiri kesulitan.

Allah Maha Adil. Karena itu, jika Anda memang betul-betul tidak ingin menderita kesulitan, baik di dunia maupun nanti di akhirat, jangan sekali-kali menyulitkan orang lain.

5. Datang ke Akhirat sebagai Orang yang Bangkrut

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab, ”Muflis itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Muflis dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Nabi Saw. menerangkan hakikat orang yang bangkrut. Menurut Baginda, orang bangkrut bukanlah orang yang merugi dalam jual beli sehingga usahanya gulung tikar seperti yang kita gambarkan saat ini.

Orang bangkrut adalah siapa saja yang “pulang” ke akhirat dengan membawa dosa yang belum diselesaikan di dunia, di antaranya mencaci dan menuduh orang lain. Keduanya jelas mempersulit urusan orang lain. Ketika kita menuduh seseorang — dalam hal ini memfitnahnya — posisi orang yang dituduh menjadi sangat sulit.

Ancamannya, seluruh tabungan amalnya tersapu habis untuk membayar, lalu dosa orang-orang yang pernah ia zalimi justru ditimpakan kepadanya.

Kesimpulan

Lima riwayat di atas berangkat dari satu pesan yang sama: memudahkan urusan orang lain berbuah kemudahan, dan mempersulitnya berbuah kesulitan yang setimpal — baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, permudahlah urusan sesama selama Anda mampu, dan jangan menambah berat beban orang yang sudah susah. Wallaahu A’lam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa isi hadits tentang menyusahkan orang lain?

Lima riwayat dalam panduan ini menyebut lima bentuk ancaman bagi orang yang mempersulit sesamanya: ia akan dipersulit Allah pada hari kiamat (HR Bukhari), diberi kemudaratan yang setimpal (HR Abu Dawud), didoakan keburukan oleh Rasulullah bila ia memegang urusan umat (HR Muslim), kehilangan pertolongan Allah ketika ia sendiri kesulitan (HR Muslim), serta datang ke akhirat sebagai orang yang bangkrut (HR Muslim).

Siapa yang disebut orang bangkrut (muflis) dalam hadits?

Menurut riwayat Muslim di atas, muflis bukanlah orang yang tidak punya dirham maupun harta benda seperti jawaban para sahabat. Muflis adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi semasa hidup ia mencaci, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Pahalanya habis dibagikan kepada mereka, lalu dosa mereka ditimpakan kepadanya.

Kapan Allah menyusahkan orang yang mempersulit orang lain?

Panduan ini tidak memastikan waktunya. Seperti disebut pada pembahasan riwayat Abu Dawud, Wallaahu A’lam — bisa jadi di kehidupan dunia sekarang, bisa jadi nanti di akhirat.

Apakah ancaman ini hanya berlaku bagi penguasa?

Tidak. Doa dalam riwayat Aisyah memang lazim dipakai untuk mendoakan penguasa zalim, tetapi cakupannya tidak terbatas pada pejabat negara. Siapa pun yang diberi amanah mengurus hajat orang banyak — atasan di tempat kerja, panitia, maupun petugas layanan — masuk dalam ancaman yang sama bila ia sengaja mempersulit.

Mengapa hadits tentang membantu orang kesulitan ikut dimuat di sini?

Riwayat Abu Hurairah itu memang berbicara tentang meringankan beban, bukan tentang menyulitkan. Ia dimuat karena memiliki mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan): jika yang meringankan beban orang lain akan ditolong Allah, maka yang menambah berat beban orang lain layak kehilangan pertolongan itu ketika ia sendiri kesulitan.

Catatan redaksi: panduan ini menggabungkan beberapa tulisan hadits di situs ini yang sebelumnya terpisah, dirapikan menjadi satu halaman pada 23 September 2026.

Baca juga:

Hadits Tentang Kebaikan dan Berbuat Baik Kepada Sesama

Hadits Tentang Menghina Fisik Orang Lain

Hadits Tentang Orang yang Dihina