Kumpulan 5 Hadits Tentang Kekayaan: Makna dan Sikap Rasulullah

Anda sedang mencari informasi seputar hadits tentang kekayaan? Jika iya, maka tepat sekali Anda datang ke artikel ini. Disini kami telah menghimpun beberapa hadits yang mungkin dapat memberikan manfaat bagi Anda semua. Kuy langsung aja simak hadits-haditsnya!

1. Kekayaan yang Hakiki

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta. Kekayaan adalah rasa cukup yang ada di dalam hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

Pada umumnya, kita tentu menganggap orang kaya adalah siapa saja yang hartanya melimpah ruah. Bahkan mungkin yang terbersit di bayangan jika disebut orang kaya adalah, belanja tinggal ngambil tanpa ngitung uang, memiliki rumah dengan fasilitas serba ada, mobil mewah yang mempesona, dan yang semisalnya.

Namun ternyata, islam tidak menganggap itu semua sebagai suatu kekayaan yang hakiki. Melainkan kekayaan hakiki hanyalah dimiliki oleh siapapun yang memiliki rasa kecukupan di dalam hati.

Dalam hal ini Ibnu Baththal berkata, “Hadis ini bermakna bahwa kekayaan yang hakiki bukan pada harta yang banyak. Karena, banyak orang yang Allah luaskan harta padanya namun ia tidak merasa cukup dengan pemberian itu, ia terus bekerja untuk menambah hartanya hingga ia tidak peduli lagi dari mana harta itu didapatkan, maka, sesungguhnya ia orang miskin, disebabkan karena ambisinya yang sangat besar.”

2. Kekhawatiran Rasulullah

فَوَ اللهِ مَا الفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلكِنِّي أَخْشَى أن تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا فتُهْلِكَكُمْ كما أهلَكَتْهُمْ (مُتّفَقٌ عَلَيْهِ)

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan dari kalian. Akan tetapi yang aku khawatirkan atas kalian adalah bila kalian telah dilapangkan harta dunia sebagaimana telah dilapangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian bersaing memperebutkannya sebagaimana mereka bersaing memperebutkannya sehingga harta dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Di zaman sekarang ini, mungkin banyak diantara kita yang sering mendengar berita tentang perselisihan maupun konflik yang terjadi karena memperebutkan harta dunia. Sebut saja konflik hak waris, harta gono-gini, pembunuhan karena bersaing di dunia kerja, dan konflik-konflik lainnya.

Dari berbagai berita tersebut, maka benarlah kekhawatiran Rasulullah dalam hadits di atas. Beliau sebagai seorang qudwah dan uswah hasanah sangat-sangat memperhatikan urusan ummatnya. Karena itu, sudah selayaknya bagi kita untuk tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan harta dunia, apalagi jika sampai berkonflik dengan sesama saudara dalam memperebutkannya.

3. Penduduk Surga Kebanyakan Orang Faqir

Jika Anda memiliki ambisi untuk menjadi orang kaya, maka ingatlah bahwa sebagian besar nabi dan wali adalah orang-orang fakir. Sangat sedikit di antara mereka yang dianugerahi kekayaan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa sebagian besar penduduk surga adalah orang-orang fakir dalam sabdanya:

اطَّلَعْتُ فِي الجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الفُقَرَاءَ (رَوَاهُ الْبُخَارِيّ وَمُسْلِمٌ)

“Aku melihat di surga, dan aku lihat kebanyakan penduduknya adalah orang-orang fakir.” (HR Bukhari dan Muslim)

Namun meskipun begitu, islam tidak melarang Anda menjadi kaya kok. Bahkan banyak diantara sahabat nabi yang masyhur akan kekayaannya yang begitu luar biasa. Sebut saja Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Keduanya adalah sosok saudagar kaya raya yang sangat dermawan dan memberikan sumbangsih besar bagi penyebaran islam.

4. Jangan Pelit Berinfaq

إِنَّ مَلَكًا بِبَابٍ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ يَقُوْلُ: مَنْ يُقْرِضِ الْيَوْمَ يُجْزَى غَدًا، وَمَلَكًا بِبَابِ آخَرَ يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَعَجِّّلْ لِمُمْسِكٍ تَلَفًا.

Sesungguhnya seorang Malaikat yang ada di sebuah pintu dari pintu-pintu langit berkata: “Barangsiapa meminjamkan pada hari ini, maka akan dibalas pada hari nanti.” Dan seorang Malaikat lagi yang berada pada pintu yang lain berkata, “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak dan percepatlah kehancuran harta orang yang pelit.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

Hadits ini setidaknya memberikan pesan kepada para orang kaya agar gemar berinfak dan memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Para orang kaya dari golongan muslim harus mencontoh bagaimana kedermawanan Utsman bin Affan yang pernah berinfak setara miliaran rupiah untuk perjuangan kaum muslimin dalam Perang Tabuk.

Nah, jika ada muslim kaya namun pelit, maka bersiaplah akan didoakan oleh para malaikat agar hartanya musnah dan lenyap tak tersisa layaknya kisah Qorun.

5. Berinfak Harus Karena Allah

ورجل وَسَّعَ الله عليه، وأعطاه من أصناف المال، فأُتي به فعرَّفه نِعَمه، فعرَفَها. قال: فما عملت فيها؟ قال: ما تركت من سبيل تُحِبُّ أن يُنْفَقَ فيها إلا أنفقت فيها لك. قال: كَذَبْتَ، ولكنك فعلت ليقال: جواد! فقد قيل، ثم أُمِر به فَسُحِب على وجهه حتى ألقي في النار

Dan orang yang diluaskan rezekinya serta diberi berbagai macam harta oleh Allah. Lalu ia dihadapkan kepada Allah kemudian dikenalkan nikmat-Nya, maka ia pun mengenalinya. Allah berfirman, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat ini?” Ia menjawab, “Aku berinfak karena-Mu di semua jalan yang Engkau sukai.” Allah berfirman, “Engkau berdusta. Engkau melakukan itu agar disebut dermawan, maka sungguh hal itu telah dikatakan.” Kemudian ia diperintahkan untuk dibawa lalu diseret dengan wajahnya sampai ia dilemparkan ke neraka. (HR Muslim)

Hadits di atas ini sebenarnya merupakan sebuah potongan hadits yang sangat penjang tentang 3 golongan yang akan pertama kali diadili pada hari penghisaban. Orang yang gemar berinfaq sendiri berada pada posisi ke 3 setelah orang yang syahid dan orang yang alim.

Masuk pada inti haditsnya, disini Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang berinfaq akan masuk neraka. Hal ini karena orang tersebut berinfaq bukan karena mengharapkan ridla Allah, melainkan karena ingin dikenal sebagai orang dermawan oleh masyarakat. So, jangan sampai Anda berinfaq dengan niat bukan karena Allah ya!

Baca juga:

Hadits Tentang Orang Tua yang Terlalu Mengekang Anaknya

Hadits Tentang Berprasangka Buruk