20 Hadits Tentang Aqidah Akhlak: Dalil dan Penjelasannya

Anda sedang mencari hadits tentang aqidah akhlak? Halaman ini mengumpulkan 20 hadits yang berkaitan dengan akidah, akhlak, dan keadaan hati, lengkap dengan lafaz Arab, terjemahan, serta penjelasan singkatnya. Urutannya dimulai dari pengertian akidah, lalu keutamaan akhlak mulia, peran hati sebagai penentu amal, dan ditutup dengan kejujuran. Semoga bermanfaat ya!

Catatan redaksi: panduan ini menggabungkan beberapa tulisan hadits yang sebelumnya terpisah di halalan.id menjadi satu halaman, disusun ulang pada 23 September 2026.

Akidah: Pondasi yang Diimani

1. Pengertian Akidah Islam

فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ

….Kemudian ia bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Iman.”
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar…..” (HR Muslim)

Hadits di atas merupakan cuplikan dari hadits populer tentang dialog Malaikat Jibril dan Nabi Saw. seputar islam, iman, ihsan, dan hari kiamat. Jika ingin melihat hadits aslinya dapat Anda temukan di kitab Arbain Nawawi.

Sebagian ulama sendiri menyamakan iman dengan akidah islam. Dan disini dengan jelas bahwasanya ia adalah beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan qadla-qadar. Wallaahu A’lam

Hadits Tentang Akhlak dan Keutamaannya

2. Rasulullah Diutus Untuk Menyempurnakan Akhlak

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR Bukhari)

Dalam menetapkan sesuatu, Allah Swt. tentu memiliki maksud dan hikmah tersendiri dalam ketetapan-Nya. Termasuk dalam pengutusan Nabi Muhammad Saw. sebagai rasul di tengah-tengah manusia. Pada hadits ini dengan jelas disebutkan bahwasanya maksud dari datangnya Baginda Saw. adalah untuk menyempurnakan dan menyebarkan akhlak yang mulia ke seluruh penjuru dunia.

3. Paling Sempurna Imannya

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Mungkin Anda sudah mengetahui, ada dua jenis akhlak. Pertama, akhlakul karimah yang artinya akhlak yang baik dan mulia. Tercakup di dalamnya sifat jujur, tawadlu, qana’ah, sabar, penyayang, dan yang semisalnya. Kedua, Akhlakul madzmumah yang artinya akhlak yang tercela seperti dusta, munafik, ingkar janji, hasad, sombong, dan sebagainya.

Nah bagi mereka yang baik akhlaknya, maka sebagaimana sabda Nabi Saw. tersebut, ia adalah orang yang paling sempurna imannya. Dan tentu kita paham, bahwa makin tinggi dan sempurna iman, maka akan semakin mendekatkan diri ke surganya Allah.

4. Dijamin Mendapatkan Rumah di Surga

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku adalah penjamin sebuah rumah di sekitar taman (Surga) bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar, penjamin rumah di tengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta walaupun ia bercanda, juga menjadi penjamin sebuah rumah di Surga paling atas bagi orang yang memiliki akhlak yang baik.” (HR Abu Dawud)

Pada hadits ini, disebutkan salah satu keutamaan yang akan didapatkan seseorang yang menghiasi dirinya dengan akhlak terpuji. Apa keutamaannya? Yaitu dia telah dijamin rumah di surga oleh Nabi Saw. Luar biasa sekali bukan?

5. Dekat dengan Allah

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR Tirmidzi)

Keutamaan lainnya orang yang bagus akhlaknya adalah mereka akan dekat dengan Allah pada hari kiamat. Ketika kedudukan kita semakin dekat dengan Tuhan Pencipta Alam, tentu bisa hampir dipastikan surga akan dapat mudah diraih, insya Alllah. Karena itu hiasilah diri kita semua dengan akhlak yang terpuji.

6. Tidak ada Akhlak Buruk pada Orang Beriman

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُؤْمِنٍ البُخْلُ وَسُوءُ الخُلُقِ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ  bersabda, “Dua perangai yang tidak akan terkumpulkan pada seorang mukmin, sifat pelit dan akhlak yang buruk.”  (HR Tirmidzi)

Pada hadits di atas, Rasulullah menyebutkan dua perangai yang tidak mungkin ada pada seorang mukmin bersama dengan imannya yaitu pelit dan akhlak yang buruk. Karena itu, jika Anda memang merasa seorang mukmin, maka jauhilah sifat pelit dan juga akhlak tercela lainnya seperti dusta, hasad, dan yang semisalnya.

7. Akhlak yang Buruk Dibenci Allah


إِنَّ اللهَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ وَمَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيُبْغِضُ سِفْسَافَهَا

“Sesungguhnya Allah Maha Pemurah menyukai kedermawanan dan akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang rendah (hina).” (HR Bukhari dan Muslim)

Jika tadi pada hadits-hadits sebelumnya membicarakan keutamaan akhlak yang mulia, maka pada hadits ini disebutkan tentang ancaman yang akan didapatkan oleh mereka yang menghiasi diri dengan akhlak tercela. Ancaman tersebut berupa dibenci oleh Allah. Dan tentu, ketika seseorang sudah dibenci Allah, maka persentase masuk nerakanya akan lebih besar.

Hadits Tentang Hati, Sumber Akhlak dan Perasaan

8. Hati Adalah Raja Anggota Badan

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini merupakan potongan akhir dari sebuah hadits yang cukup panjang tentang halal, haram, dan syubhat. Disini dengan jelas bahwasanya Nabi Saw. mengabarkan kepada kita bahwa hati merupakan penentu baiknya perbuatan manusia. Jika hatinya baik, maka amal seorang hamba akan baik. Sebaliknya, jika hatinya keras dan dipenuhi kotoran, maka amal perbuatannya pun akan buruk.

Dalam hal ini Imam Ibnu Rajab mengisyaratkan bahwa baiknya amalan badan seseorang dan kemampuannya untuk menjauhi keharaman, juga meninggalkan perkara syubhat, itu semua tergantung pada baiknya hati.

9. Kebaikan adalah yang Setiap Membuat Hati Tenang

يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

“Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa.” (HR. Ahmad)

Pada hakikatnya, seorang muslim yang taat akan memiliki insting dan perasaan yang kuat tentang suatu perbuatan. Maksudnya dia dengan hatinya dapat dengan mudah merasakan bahwa suatu perbuatan tersebut dosa atau tidak. Hal ini karena perbuatan dosa akan membuat hati menjadi tenang. Sebaliknya, perbuatan dosa dapat membuat pelakunya menjadi gelisah.

Hanya saja meminta fatwa kepada hati ini hanya berlaku kepada orang-orang yang memang shalih dan memiliki ketaatan yang tinggi kepada Allah. Sebab jika ahli maksiat hatinya tentu sudah sangat sulit untuk mengarahkan diri kepada kebaikan.

10. Allah Maha Membolak-balikkan Hati

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

 “Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa, ‘Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!”(HR Muslim)

Sebagai seorang muslim, tentu kita mengimani bahwasanya Allah Maha Segalanya. Tidak ada satupun yang tidak dapat dilakukan oleh-Nya, termasuk mengubah hati manusia. Dalam hadits ini misalnya, dengan jelas Baginda Saw. menyampaikan bahwasanya Allah dapat membolak-balikkan hati manusia.

Karena itu, wajar saja bila Anda mungkin pernah mendengar banyak kisah ahli maksiat yang berubah menjadi ahli kebaikan. Sebaliknya, ada juga ahli ibadah yang menjadi pecandu kemaksiatan. So, hikmahnya adalah Anda tidak boleh meremehkan dan merendahkan orang lain yang kini masih terjungkal dalam lumpur kemaksiatan. Boleh jadi kedepannya orang tersebut berubah dan jauh lebih baik dari Anda.

11. Cara Melunakkan Hati yang Keras

إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

“Jika engkau ingin agar hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR Ahmad)

Salah satu penyebab kita sering berbuat kemaksiatan adalah hati yang keras dan enggan menolak kebenaran. Nah jika Anda merasa hati Anda kini sedang keras, maka diantara cara untuk melunakkannya kembali adalah dengan memberi makan orang-orang miskin dan mengusap kepala anak yatim. Tidak hanya mengusap tentunya, melainkan juga membahagiakan mereka.

12. Hati yang Bersih

عَن عبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ حديث صحيح رواه ابن ماجه

Dari Abdullah bin ‘Amru, ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan tutur katanya benar.” Mereka berkata, “Tutur kata yang benar telah kami sudah mengerti, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda: “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezoliman, kedengkian dan hasad di dalamnya.” (HR Ibnu Majah)

Dalam hadits terakhir ini, Nabi Saw. menyebut bahwasanya diantara manusia yang paling mulia adalah mereka yang hatinya makhmum. Makhmum sendiri merupakan hati seseorang yang tentunya beriman dan bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Wallaahu A’lam

13. Saling Mencintai Sesama Saudara

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)

Diantara ciri keimanan seorang mukmin adalah mencintai saudaranya seperti layaknya ia mencintai diri sendiri. Karena itu, tentu saja persaudaraan orang-orang beriman haruslah kuat dan tidak tergoyahkan sedikitpun.

Termasuk diantara ciri persaudarannya sudah sangat erat adalah saling menjaga perasaan satu sama lain. Tidak saling menghina, merendahkan, atau bahkan menjatuhkan.

Hadits Tentang Kejujuran (Shidq), Akhlak yang Paling Ditekankan

14. Jujur Membawa Kebaikan

عَلَـيْكُمْ بِـالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَـهْدِى اِلىَ اْلبِرِّ وَ اْلبِرُّ يَـهْدِى اِلىَ اْلجَنَّةِ. وَ مَا يَزَالُ الـرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَـتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيـْقًا. وَ اِيـَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَاِنَّ اْلكَذِبَ يَـهْدِى اِلىَ اْلفُجُوْرِ وَ اْلفُجُوْرُ يَـهْدِى اِلىَ النَّارِ. وَ مَا يَزَالُ اْلعَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَـتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ كَـذَّابـًا

Artinya: “Wajib bagi kalian untuk jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa pada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan seseorang senantiasa jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan takutlah kalian dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan seseorang senantiasa berdusta dan memilih berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaq Alaih)

Tatkala memerintahkan suatu perkara, Allah SWT lazimnya telah mempersiapkan balasan setimpal bagi siapa saja yang mentaatinya. Dalam hal ini, ketika Allah melalui lisan utusan-Nya mewajibkan hamba-Nya untuk berkata jujur, Dia telah menjanjikan bahwa kejujuran itu akan mengantarkan kepada kebaikan. Dan hasil dari kebaikan itu sendiri ialah mendapatkan surganya di akhirat kelak.

15. Dijamin Surga Oleh Rasulullah

اِضْمَنُوْا لىِ سِتًّا مِنْ اَنـْفُسِكُمْ، اَضْمَنْ لَكُمُ اْلجَنَّةَ. اُصْدُقُوْا اِذَا حَدَّثْـتُمْ، وَ اَوْفُوْا اِذَا وَعَدْتُمْ، وَ اَدُّوْا اِذَا ائْـتُمِنْـتُمْ، وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ، وَ غُضُّوْا اَبـْصَارَكُمْ، وَ كُـفُّـوْا اَيـْدِيـَكُمْ

“Hendaklah kalian menjamin padaku enam perkara, niscaya aku menjamin surga bagi kalian. Jujurlah apabila kamu berbicara, tunaikan janji apabila kalian berjanji, laksanakan apabila kalian diberi amanah, jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan kalian dan jagalah tangan kalian.” (HR Ibnu Abdilbar)

Tidak jauh berbeda dengan hadits pertama, pada hadits ini Rasulullah Saw. memberikan jaminan surga bagi siapapun di kalangan ummatnya yang berhasil menunaikan 6 perkara di atas. Yang mana salah satunya adalah jujur ketika berbicara.

16. Memperoleh Ketenangan Hati

Berkata Hasan bin Ali R.A,

حفِظْتُ مِنْ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : دَعْ ما يَرِيبُكَ إِلَى مَا لا يَريبُكَ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمأنينَةٌ، وَالْكَذِبَ رِيبةٌ

Aku menghafal dari Rasululllah SAW: “Tinggalkanlah olehmu apa saja yang kamu ragukan dan beralihlah kepada yang tidak kamu ragukan. Sesungguhnya kejujuran itu ketenangan dan kedustaan itu kebimbangan.” (HR Tirmidzi)

Pada dasarnya, bagi siapapun yang masih memiliki keimanan di dalam hatinya, ia akan selalu merasa tidak tenang jika melakukan kemaksiatan. Sebaliknya, jika seorang mukmin melakukan kebajikan, maka hatinya pasti akan merasa tenang dan tentram. Tak terkecuali dengan sifat jujur. Siapa saja yang senantiasa jujur, maka hatinya akan diliputi ketenangan zhahir dan batin

17. Tidak Akan Dicap Sebagai Orang Jahat

إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ

“Sesungguhnya, para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat), kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” (HR Tirmidzi)

Diantara golongan besar manusia yang kerap kali tidak jujur dalam bermuamalah adalah para pedagang. Maka dari itu tidak heran jika Allah membuatkan satu surat tersendiri di dalam Al Qur’an yaitu Al Muthaffifin untuk menyindir pembuatan mereka. Karena itu, wajar saja bila pedagang yang tidak jujur mendapatkan ancaman yang luar biasa dari Allah Swt.

Hanya saja, bila seorang pedagang jujur, maka ia akan mendapatkan berbagai keutamaan baik di dunia maupun di akhirat. Salah satunya ialah ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan sebagai orang yang baik.

18. Terhindar dari Sifat Munafik

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR Bukhari)

Hadits di atas memang tidak menyebut secara langsung kata jujur dalam lafadznya, namun secara maknanya hadits ini mengandung makna bahwa orang yang jujur itu sudah pasti bukan orang munafik. Hal ini karena diantara ciri orang munafik adalah gemar berdusta dalam berbicara.

Terhindar dari sifat munafik merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri. Mengingat dosa yang akan didapatkan orang-orang tersebut sangatlah berat. Disebutkan dalam sebuah ayat di Al Qur’an, orang munafik nantinya akan menghuni keraknya api neraka.

19. Kunci Keselamatan

أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ فَلاَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا : حِفْظُ أَمَانَةٍ، وَصِدْقُ حَدِيثٍ، وَحُسْنُ خَلِيقَةٍ، وَعِفَّةٌ فِي طُعْمَةٍ

”Ada empat hal yang jika terdapat pada anda maka tidak membahayakan anda segala hal yang anda luput dari dunia: menjaga amanah, perkataan jujur, akhlak yang baik, menjaga iffah dalam hal makanan.” (HR Ahmad)

Sebagai seorang manusia tentu akan mendambakan hidup yang tenang, bahagia, dan tentu selamat dari marabahaya dunia. Nah, dalam hal ini Rasulullah telah memberikan beberapa amalan agar seseorang selamat dari bahaya dunia. Amalan-amalan tersebut dapat Anda lihat pada hadits di atas.

20. Mendapatkan Keberkahan

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا – أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا – فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu” (Muttafaq Alaih).

Kembali berbicara soal penjual yang jujur dalam bermuamalah, hadits ini juga menjelaskan keutamaan bagi siapa saja penjual ataupun pengusaha yang senantiasa tidak menyembunyikan sesuatu ketika sedang bernegosiasi dengan pelanggannya. Apabila para penjual tersebut istiqomah dengan kejujuran tersebut, niscaya keberkahan dari Allah yang tiada dua-Nya akan mengalir deras. Wallaahu A’lam

Kesimpulan

Dari kumpulan hadits di atas terlihat bahwa akidah dan akhlak bukan dua hal yang terpisah. Akidah menempatkan iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik maupun yang buruk sebagai pondasi. Akhlak adalah buahnya, sampai-sampai Rasulullah Saw. menyebut mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.

Di antara keduanya ada hati. Nabi Saw. menyebutnya segumpal daging yang menentukan baik dan rusaknya seluruh jasad, sekaligus mengingatkan bahwa Allah-lah yang membolak-balikkannya. Dan di antara akhlak yang paling ditekankan adalah kejujuran, yang menurut hadits mengantarkan pelakunya kepada kebaikan, lalu kebaikan itu mengantarkan ke surga. Wallaahu A’lam

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu akidah dalam Islam?

Berdasarkan hadits dialog Malaikat Jibril dengan Nabi Saw. di atas, iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk. Sebagian ulama sendiri menyamakan iman dengan akidah islam.

Apa hadits tentang Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak?

Lafaznya “Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR Bukhari). Hadits ini menegaskan bahwa maksud dari diutusnya Baginda Saw. adalah untuk menyempurnakan dan menyebarkan akhlak yang mulia ke seluruh penjuru dunia.

Kenapa hati disebut penentu akhlak seseorang?

Karena Nabi Saw. bersabda bahwa di dalam jasad ada segumpal daging yang jika ia baik maka baik pula seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasad, yaitu hati. Jadi jika hatinya baik, amal seorang hamba akan baik; sebaliknya jika hatinya keras dan dipenuhi kotoran, amal perbuatannya pun akan buruk.

Bagaimana cara melunakkan hati yang keras?

Dalam hadits riwayat Ahmad di atas disebutkan, “Jika engkau ingin agar hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” Tidak hanya mengusap tentunya, melainkan juga membahagiakan mereka.

Apa keutamaan jujur menurut hadits?

Kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga, sampai orang yang senantiasa jujur dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Selain itu jujur mendatangkan ketenangan hati, menjauhkan dari ciri orang munafik, dan mendatangkan keberkahan dalam jual beli.

Baca juga:

Hadits Tentang Ukhuwah Islamiyah

Hadits Tentang Makanan dan Minuman Haram

Hadits Tentang Riba dan Penjelasannya