16 Hadits Tentang Ukhuwah Islamiyah, Teman, dan Idola

Hadits tentang ukhuwah islamiyah adalah kumpulan sabda Rasulullah yang menegaskan bahwa sesama muslim itu bersaudara: saling menguatkan layaknya bangunan, dan ikut merasa sakit layaknya satu tubuh. Di halaman ini Anda menemukan 16 hadits ukhuwah beserta terjemahan dan penjelasannya, lengkap dengan hadits tentang memilih teman dan hadits tentang siapa yang Anda idolakan.

Catatan redaksi: panduan ini menggabungkan beberapa tulisan hadits yang sebelumnya terpisah di Halalan.id — hadits ukhuwah islamiyah, hadits pertemanan, dan hadits mengidolakan artis — menjadi satu halaman pada 23 September 2026.

Hadits Tentang Ukhuwah Islamiyah: Sesama Muslim Itu Bersaudara

1. Sesama Muslim Adalah Saudara

المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يسلِمُه، ومن كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته

“Seorang muslim adalah saudara bagi seorang muslim yang lain, yang tidak boleh menganiaya saudara muslimnya dan juga tidak boleh menyerahkan saudara muslim itu kepada musuh. Dan sesiapa meringankan seorang muslim dari kesulitan maka Allah akan memenuhi kebutuhanya. (HR Bukhari)

Berdasarkan hadits yang mulia ini. Rasulullah menjelaskan bahwasanya setiap muslim dan muslim yang lainnya adalah saudara. Tidak peduli warna kulitnya, ras, bahasa, dan strata sosialnya, seluruh muslim adalah bersaudara.

Muslim yang ada di Indonesia bersaudara dengan muslim yang di Zimbabwe. Muslim di Amerika pun bersaudara dengan muslim yang ada di Papua. Karena bersaudara itulah, tentu kita dilarang untuk saling bermusuhan, saling membenci, atau bahkan saling menganiaya dan membunuh satu sama lain.

2. Mencintai Sesama

أَحبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ

Cintailah kepada manusia sebagaimana kamu mencintai dirimu.” (HR Ahmad)

Meskipun tidak secara langsung menyebutkan perintah bagi seorang muslim untuk bersaudara, pada hadits ini Rasulullah menyerukan kepada kita untuk mencintai sesama sebagaimana mencintai diri sendiri. Hal itu tentu menunjukkan betapa besarnya persaudaraan diantara sesama muslim.

Bahkan, pada hadits lain disebutkan bahwa kita tidak akan disebut beriman jika kita tidak mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.

3. Dilarang Bermusuhan

لاَتَقَا طَعُوا وَلاَتَدَا بَرُوا وَلَاتَبَا غَضُوا وَلاَتَحَا سَدُوا ، وَكُونُواعِبَادَ اللهِ إخْوَانًا ، وَلاَيَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أنْ يَهْجُرَ أخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ .

“Jangan putus-memutus hubungan dan jangan belakang-membelakangi dan jangan benci-membenci, dan jangan hasud-menghasud dan jadilah kamu hamba Allah sebagai saudara, dan tidak dihalalkan bagi seorang muslim memboikot saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hari.” (Muttafaq Alaih)

Jika dua hadits sebelumnya berbicara soal perintah Rasulullah, maka hadits ini lebih banyak menjelaskan larangan dari Nabi kepada umatnya. Ya, dengan tegas Rasulullah melarang umatnya untuk melakukan hal-hal sebagaimana yang sudah sangat jelas di atas. Selain tentu memang disana juga ada perintah darinya kepada kita untuk saling bersaudara.

4. Layaknya Bangunan

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشبك أصابعه

“Sesungguhnya orang mukmin yang satu dengan yang lain seperti bangunan. Yang sebagian menguatkan sebagian yang lain. Dan Nabi menggabungkan jari-jari tangannya.” (HR Bukhari)

Pada hadits di atas, Baginda Nabi membuat permisalan bahwa kaum mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagaikan sebuah bangunan yang kokoh. Itu artinya, sebagai sebuah bangunan tentu harus saling menguatkan. Dalam hal ini tentu maknanya adalah tidak salling bermusuhan satu sama lain, dan saling mencintai agar bangunan tersebut semakin kokoh.

5. Layaknya Satu Tubuh

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, bagaikan satu badan/ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (HR Bukhari)

Jika pada hadits sebelumnya Rasulullah mengibaratkan kaum muslim bagaikan satu bangunan, maka hadits ini menerangkan bahwa kaum muslim seperti satu tubuh. Layaknya tubuh yang akan sakit jika jarinya tergores, maka kaum muslim pun demikian.

Sebagai contoh, bila kini kaum muslim di Palestina sedang terdzalimi, tertindas, dan terjajah gara-gara ulah Israel la’natullah, maka kita pun harus memiliki rasa empati dan merasa tersakiti sehingga membantu saudara-saudara kita yang berada disana.

6. Perintah Silaturahmi

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَط لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

“Siapa yang ingin agar rizkinya diperluas dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia berhubungan baik dengan yang ada hubungan rahim dengannya.” (HR. Bukhari)

Ya, pada hadits ini Rasulullah memerintahkan kita agar lebih baik kepada sesama, khususnya kepada yang memiliki hubungan darah. Hal ini karena perbuatan tersebut dapat meluaskan rizki dan juga memperpanjang usia.

7. Perumpamaan Kapal

مَثَلُ اْلقَائِمِ فِيْ حُدُوْدِ اللهِ وَاْلوَاقِعِ فِيْهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوْا عَلَى سَفِيْنَةٍ فَصَارَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، وَكَانَ الَّذِيْنَ فِيْ أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ اْلمَاءِ مَرُّوْا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوْا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيْبِنَا خَرْقاً وَلَمْ نُؤذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ تَرَكُوْهُمْ وَمَا أَرَادُوْا هَلَكُوْا جَمِيْعاً، وَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى أَيْدِيْهِم نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيْعاً

”Permisalan orang yang menjaga larangan-larangan Allah dan orang yang melanggar larangan-larangan-Nya adalah bagaikan sekelompok orang yang berundi dalam sebuah kapal. Akhirnya ada sebagian orang mendapat bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut.

Yang berada di bagian bawah bila ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikan saja kita membuat (satu) lubang di bagian kita ini, (tentu) tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.”

Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang di bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Dan, bila mereka melarang orang-orang yang di bawah berbuat demikian, maka mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR Bukhari)

Pada hadits ini menggambarkan bahwa kaum muslim itu hidup dalam satu kapal. Karena itu, Rasulullah memerintahkan kepada ummatnya agar saling menjaga kapal tersebut agar tidak oleh. Bagaimana caranya? Yaitu dengan cara saling menasihati ketika ada salah satu penumpangnya yang berbuat kerusakan (maksiat). Wallaahu A’lam

Hadits Tentang Pertemanan dan Cara Memilih Teman

8. Berteman dengan “Penjual Minyak Wangi”

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “

“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar  pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”. (HR Bukhari dan Muslim)

Pada hadits di atas, Nabi Saw. sudah memberikan arahan dalam memilih teman. Disini beliau seolah menunjukkan kepada kita selaku umat muslim untuk memilih teman yang seperti minyak wangi. Maksudnya apa? Yaitu memilih teman yang dapat memberikan bekas kebaikan dan ketaatannya kepada Allah agar kita pun menjadi taat kepada-Nya.

Sebaliknya, beliau pun seolah melarang kita untuk berteman dengan tukang pandai besi, karena kalau kita dekat dengan mereka, kita akan mendapatkan panas api dan bau besi yang kurang sedap. Maksudnya adalah teman yang ketika kita dekat dengan-Nya, kita justru malah dekat dengan kemaksiatan yang tentu akan memiliki wangi yang buruk di sisi Allah.

9. Mendoakan Teman

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR Muslim)

Ketika kita berteman, hendaknya mendoakan mereka di kala mereka tidak mengetahuinya. Hal ini karena doa tersebut akan mustajab alias mudah dikabulkan. Dan bahkan doa yang baik kepada teman pun akan berbalik kepada sendiri. Itu artinya, jika Anda memiliki suatu hajah (kebutuhan) yang ingin segera didapatkan, salah satu caram mendapatkannya adalah dengan mendoakan kebaikan kepada teman.

10. Selektif dalam Memilih Teman Dekat

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Disini Rasulullah Saw. menggambarkan bahwa setiap orang akan mirip dengan kebiasaan teman dekatnya. Karena itu, jika Anda ingin memiliki kebiasaan membaca Al Qur’an setiap hari, maka berteman dekatlah dengan ahli Qur’an. Namun jika Anda memang ingin menjadi seorang ahli maksiat, maka akrabkanlah diri kalian dengan para pecinta maksiat.

11. Saling Mencintai Karena Allah

Dari Mujahid berkata,

لقيني رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فأخذ بمنكبي من ورائي. قال: أما إني أحبّك. قال : أحبك الله الذي أحببتني له. فقال : لولا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” “إذا أحب الرجل الرجل فليخبره أنه أحبه”. ما أخبرتك. قال: ثم أخذ يعرض علي الخطبة. قال: أما إن عندنا جارية، أما إنها عوراء

Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu denganku lalu ia memegang pundakku dari belakang dan berkata, “Sungguh saya mencintaimu.” Dia lalu berkata, “Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu.”

Dia berkata, “Kalau sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda, ‘Jika seorang pria mencintai saudaranya hendaklah dia memberi tahu bahwa dia mencintainya’, maka tentulah ucapanku tadi tidak kuberitahukan kepadamu.” Dia lalu menyodorkan sebuah lamaran kepadaku sambil berkata, “Kami memiliki seorang budak perempuan dia buta sebelah matanya (silakan engkau mengambilnya).” (HR Bukhari)

Pada hadits ini, dikisahkan bahwasanya ada dua orang sahabat Nabi yang saling mencintai karena Allah. Eits tapi cinta disini bukan bermakna cinta yang gay ya. Tapi memang merupakan cinta kepada saudara yang jelas disunnahkan oleh Rasulullah Saw.

Kedua sahabat tadi bahkan sampai mengucapkannya secara langsung diantara satu yang lainnya dengan ucapan “Aku cinta kamu karena Allah”. Dari hadits ini, setidaknya kita pun kalau memiliki teman yang betul-betul akrab, hendaknya untuk mengungkapkan perasaan cinta terhadap teman akrab tersebut.

Dalam beberapa riwayat lain juga disebutkan bahwa seseorang akan bersama yang dicintainya nanti di akhirat. Nah, jika Anda ingin langgeng pertemannya hingga di akhirat kelak, maka hendaklah saling mencintai karena Allah.

12. Manfaat Berteman dengan Orang Shalih

حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار،

“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat.” Mereka memohon, “Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.”

Dijawab Allah, ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. (HR Nasai’ dan Ibnu Majah)

Dalam beberapa hadits sebelumnya telah disebutkan bahwasanya Nabi Saw. menganjurkan umatnya untuk memiliki teman karib yang sifatnya shalih. Bukan tanpa alasan, hal ini karena teman tersebut dapat menolong Anda jika seandainya Anda nanti berada di neraka. So, pilihlah teman yang shalih dan baik ahlaknhya ya!

13. Sebaik-baik Teman

خَيْرُ ْلاَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِه ، وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَاللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِه

“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah yang terbaik di antara mereka terhadap sahabatnya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang terbaik di antara mereka terhadap tetangganya.” (HR Tirmidzi)

Pada hadits ini Nabi Saw. menyebutkan bahwa sebaik-baik teman atau sahabat adalah yang paling baik diantara mereka. Itu artinya, jika Anda ingin dicap sebagai orang terbaik, hendaknya Anda berlaku baik kepada teman Anda. Wallaahu A’lam

Hadits Tentang Siapa yang Diidolakan

Diantara Anda mungkin pernah bertanya-tanya, ada gak sih hadits tentang mengidolakan artis? Jawabannya adalah, jika secara lafadz tentu tidak ada. Hal ini karena dulu di zaman nabi memang tidak ditemukan adanya artis-artis layaknya masa sekarang.

Hanya saja jika diteliti lebih jauh, ternyata ada lho beberapa hadits yang secara maknanya bisa dimasukkan ke dalam bahasan mengidolakan artis. Berikut ini hadits-haditsnya

14. Dikumpulkan Bersama yang Diidolakan Pada Hari Kiamat

لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.” (HR Thabrani)

Mencintai atau mengidolakan seseorang merupakan perkara manusiawi. Seorang manusia, pada dasarnya telah Allah karuniakan beberapa naluri yang mana naluri tersebut menuntut untuk dipenuhi. Jika tidak dipenuhi, maka manusia tersebut akan merasakan kecemasan atau kegalauan.

Dalam hal ini, Rasulullah telah menjelaskan bahwa pada hari kiamat nanti seorang muslim akan bersama dengan siapa yang cintai dan idolai. Karena itu, jika Anda mengidolakan seorang artis korea, maka Anda akan bersamanya di akhirat kelak. Dan kita tau, di akhirat itu hanya ada 2 tempat kembali, yaitu surga atau neraka.

Pertanyaannya, tarolah bila Anda mengidolakan artis korea, apakah dia masuk surga atau neraka? Perkara masuk surga atau neraka tentu hanya Allah yang mengetahuinya. Akan tetapi, tentu kita pun sudah mengetahui bukan dari dalil-dalil lain tentang siapa sajakah orang yang akan masuk surga?

Karena itu, tentu lebih baik bagi kita untuk mengidolakan atau mencintai tokoh-tokoh ataupun siapa saja yang dijamin masuk surga. Dalam hal ini tentu adalah baginda Muhammad Saw. dan para sahabatnya.

15. Akan Bersama-sama Dengan yang Diidolakan

Dari Anas bin Malik R.A,

 أنَّ رَجُلًا سَأَلَ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: ومَاذَا أعْدَدْتَ لَهَا. قَالَ: لا شيءَ، إلَّا أنِّي أُحِبُّ اللَّهَ ورَسوله صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقَالَ: أنْتَ مع مَن أحْبَبْتَ. قَالَ أنَسٌ: فَما فَرِحْنَا بشيءٍ، فَرَحَنَا بقَوْلِ النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أنْتَ مع مَن أحْبَبْتَ قَالَ أنَسٌ: فأنَا أُحِبُّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وأَبَا بَكْرٍ، وعُمَرَ، وأَرْجُو أنْ أكُونَ معهُمْ بحُبِّي إيَّاهُمْ، وإنْ لَمْ أعْمَلْ بمِثْلِ أعْمَالِهِمْ

Bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Makna yang diberikan hadits ini tidak jauh berbeda dengan hadits sebelumnya. Yaitu Anda akan bersama dengan siapa saja yang dicintai. Bahkan dalam hadits di atas, Anas bin Malik selaku perawinya langsung berkata mencintai Nabi Saw, Abu Bakar, dan Umar setelah mengetahui bahwa ”kamu akan bersama dengan yang kamu cintai.”

16. Termasuk Golongan Mereka

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barang siapa yang meniru suatu kelompok, maka ia termasuk bagian kelompok itu secara tidak langsung.” (HR Abi Daud)

Dalam mengidolakan seseorang, terkadang banyak orang-orang yang berlebihan dalam kelakuannya.

Sebagai contoh, ada seorang remaja muslim yang mengidolakan tokoh dari kalangan non muslim baik itu artis maupun bukan. Nah tidak hanya mengidolakan, ia pun sampai dalam tahap meniru semua perilakunya, baik itu pakaian, budaya, dan yang lainnya.

Ketika sampai pada tahap tersebut, maka dia secara tidak langsung sudah termasuk bagian dari kelompok tersebut. Yang mana itu bisa saja berefek kepada kekafiran. Wallaahu A’lam

Kesimpulan

Ukhuwah islamiyah bukan sekadar perasaan. Hadits-hadits di atas menyebutnya sebagai ikatan persaudaraan yang menuntut sikap: tidak menganiaya, tidak memutus hubungan, saling menguatkan layaknya bangunan, dan ikut merasakan sakit layaknya satu tubuh.

Ikatan itu lalu diuji lewat pergaulan sehari-hari. Rasulullah mengumpamakan kawan yang baik seperti penjual minyak wangi dan kawan yang buruk seperti peniup alat untuk menyalakan api, lalu memerintahkan setiap orang memperhatikan siapa yang ia jadikan teman karib.

Dan siapa yang Anda kagumi ternyata ikut menentukan tempat Anda. Menurut hadits-hadits di bagian ketiga, seseorang akan dikumpulkan bersama siapa yang ia cintai pada hari kiamat, dan orang yang meniru suatu kelompok terhitung bagian dari kelompok itu. Wallaahu A'lam

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa isi hadits tentang ukhuwah islamiyah?

Hadits ukhuwah islamiyah menegaskan bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, yang tidak boleh ia aniaya dan tidak boleh ia serahkan kepada musuh (HR Bukhari). Rasulullah juga mengumpamakan kaum mukmin seperti satu bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain, dan seperti satu tubuh yang ikut tidak bisa tidur dan demam ketika satu anggotanya sakit (HR Bukhari).

Hadits apa yang menjadi dasar dalam memilih teman?

Ada dua yang paling sering dipakai dan keduanya ada di bagian kedua panduan ini: perumpamaan penjual minyak wangi dan peniup alat untuk menyalakan api (HR Bukhari dan Muslim), serta sabda “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad).

Kenapa mendoakan teman tanpa sepengetahuannya dianjurkan?

Karena doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab. Ada malaikat yang bertugas mengaminkannya, lalu berkata “Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR Muslim).

Apakah ada hadits tentang mengidolakan artis?

Secara lafadz tidak ada, karena di zaman Nabi memang tidak ditemukan artis seperti sekarang. Namun secara makna ada beberapa hadits yang bisa dimasukkan ke bahasan itu, yaitu bahwa seseorang dikumpulkan bersama kaum yang ia cintai pada hari kiamat (HR Thabrani), bahwa “engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai” (HR Muslim), dan bahwa siapa yang meniru suatu kelompok maka ia termasuk bagian kelompok itu (HR Abi Daud).

Apa hubungan ukhuwah islamiyah dengan silaturahmi?

Panduan ini memuat sabda Rasulullah bahwa siapa yang ingin rizkinya diperluas dan umurnya dipanjangkan hendaklah ia berhubungan baik dengan yang ada hubungan rahim dengannya (HR Bukhari). Jadi persaudaraan sesama muslim berjalan beriringan dengan menjaga hubungan kekerabatan.

Baca juga:

Hadits Tentang Manusia Sebagai Khalifah di Bumi

Hadits Tentang Nasihat dan Adab Menasihati

Hadits Tentang Mempersulit Orang Lain

Hadits Tentang Rezeki Sudah Diatur, Harta, dan Hutang

Hadits Tentang Aqidah Akhlak

Hadits Tentang Uban