Jawaban singkat: menasihati sesama muslim bukan sekadar dianjurkan, melainkan kewajiban yang disandingkan dengan shalat dan zakat. Namun cara menyampaikannya sama pentingnya dengan isinya. Sembilan hadits di bawah ini memuat dua hal sekaligus: perintah menasihati, dan adab yang menyertainya — mulai dari meluruskan niat, berlemah lembut, tidak mencela, sampai cara khusus menasihati seorang pemimpin.
Nasihat dan menasihati adalah aktivitas yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan kepada umat muslim di mana pun ia berada, sebab di dalamnya terdapat banyak kebaikan dan maslahat. Berikut kumpulan hadits tentang nasihat dan menasihati beserta penjelasannya.
1. Islam Adalah Agama Nasihat
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR Muslim)
Hal pertama yang perlu Anda pahami: Islam sebagai agama pada dasarnya adalah nasihat yang menjadi petunjuk bagi siapa saja, khususnya bagi para pemimpin dan kaum muslimin pada umumnya.
Dalam memahami sabda “agama itu nasihat”, para ulama berbeda pendapat. Ada yang menyatakan seluruh ajaran Islam tanpa terkecuali adalah nasihat, dan ada yang menjelaskan maksudnya adalah bahwa sebagian besar ajaran Islam terdiri dari nasihat.
2. Menasihati Adalah Kewajiban Setiap Muslim
عن جرير بن عبد الله – رضي الله عنه – ، قَالَ : بَايَعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – عَلَى إقَامِ الصَّلاةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، والنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ
Dari Jarir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah berbaiat (berjanji setia) pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya menegakkan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasihat kepada setiap muslim.” (Muttafaqun ‘alaih)
Perhatikan posisi kalimatnya. Sahabat Jarir menyebut “memberi nasihat kepada setiap muslim” sejajar dengan menegakkan shalat dan menunaikan zakat — dua rukun Islam.
Dari situ dapat disimpulkan bahwa memberi nasihat kepada sesama muslim adalah kewajiban, bukan sekadar kebaikan tambahan. Karena itu kita mesti selalu berupaya saling mengingatkan, baik kepada teman, kerabat, maupun siapa pun yang kita anggap membutuhkannya.
3. Memberi Nasihat Saat Diminta Adalah Hak Sesama Muslim
حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ
“Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam: apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; apabila dia bersin lalu memuji Allah, doakanlah dia; apabila dia sakit, jenguklah dia; dan apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya.” (HR Muslim)
Hadits ini menempatkan nasihat sebagai hak. Artinya, jika ada yang meminta nasihat kepada Anda, permintaan itu tidak boleh ditolak begitu saja; tunaikanlah sebisa mungkin.
Namun bukan berarti Anda hanya boleh menasihati ketika diminta. Bila Anda melihat kemungkaran yang jelas dilakukan orang terdekat, justru Anda perlu segera menasihatinya agar ia terbebas dari dosa tersebut. Hanya saja, menyampaikannya tidak boleh serampangan — ada adab yang menyertainya, dan itulah yang dibahas hadits-hadits berikutnya.
4. Perbaiki Niat Sebelum Menasihati
إنَّما الأعْمالُ بالنِّيَّةِ، وإنَّما لِامْرِئٍ ما نَوَى، فمَن كانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللَّهِ ورَسولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إلى اللَّهِ ورَسولِهِ، ومَن هاجَرَ إلى دُنْيا يُصِيبُها أوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُها، فَهِجْرَتُهُ إلى ما هاجَرَ إلَيْهِ
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan seseorang mendapatkan ganjaran sesuai niatnya. Orang yang hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya maka ia mendapatkan ganjaran sebagai amalan hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya. Orang yang hijrah untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi wanita, maka hijrahnya sekedar untuk apa yang ia niatkan tersebut.” (HR Bukhari)
Inilah adab yang paling awal, karena ia dikerjakan sebelum mulut terbuka. Jangan sampai niat Anda menasihati hanyalah mencari muka atau ingin dikenal sebagai orang alim — bila itu terjadi, Anda justru sedang menambah dosa baru bagi diri sendiri.
Niatkan menasihati karena Allah, dengan tujuan yang jelas: agar kebiasaan buruk pada orang tersebut benar-benar berubah.
5. Jangan Ada Kesombongan Saat Menasihati
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ … الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Seseorang yang di dalam kalbunya terdapat kesombongan sebesar biji sawi tidak akan masuk surga… Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang.” (HR Muslim)
Menyampaikan nasihat adalah amal shalih yang berbuah pahala. Tetapi bila niatnya tidak ikhlas dan lahir dari perasaan meremehkan orang yang dinasihati, ia justru berubah menjadi keburukan.
Karena itu, sebelum menasihati seseorang, pastikan tidak ada rasa seolah diri Anda lebih baik daripada orang yang hendak Anda nasihati.
6. Menasihati dengan Lemah Lembut
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Setiap sikap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya.” (HR Muslim)
Allah disebut dalam berbagai dalil sebagai Yang Maha Lembut, dan Dia memerintahkan hamba-Nya berlemah lembut dalam berinteraksi — termasuk dalam menasihati. Nasihat yang disampaikan dengan lembut berdampak positif bagi yang menerimanya; sebaliknya, nasihat yang disampaikan dengan bentakan dan nada merendahkan justru membuat orang makin menjauh.
Contoh paling kuat datang dari kisah Fir’aun — sosok yang begitu kejam sampai mengaku dirinya tuhan. Meski demikian, Allah tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menasihatinya dengan perkataan yang lemah lembut.
7. Tidak Mencela atau Melaknat Orang yang Dinasihati
ليسَ المؤمنُ بالطَّعَّانِ ولا اللَّعَّانِ ولا الفاحِشِ ولا البذَيُّ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka bicara kotor dan suka bicara jorok.” (HR Tirmidzi)
Selain berlemah lembut, hindari mencela keburukan orang yang sedang Anda nasihati, apalagi melaknatnya. Bila itu dilakukan, yang tertanam bukan kesadaran melainkan kebencian — nasihat pun berubah dari solusi menjadi masalah baru.
8. Menasihati Pemimpin Secara Empat Mata
من أراد أن ينصح لسلطان بأمر فلا يبد له علانية، ولكن ليأخذ بيده فيخلو به، فإن قبل منه فذاك،وإلا كان قد أدى الذي عليه
“Barangsiapa ingin menasihati penguasa dengan sesuatu hal, maka janganlah tampakkan nasihat tersebut secara terang-terangan. Namun ambillah tangannya dan bicaralah empat mata dengannya. Jika nasihat diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak diterima, engkau telah menunaikan apa yang dituntut darimu.” (HR Ahmad)
Kebijakan penguasa yang menjengkelkan dan menimbulkan kezaliman bukan hal asing di zaman ini. Sebagai muslim kita dituntut menasihatinya sebisa mungkin, tetapi hadits ini menambahkan satu syarat cara: sampaikan secara tertutup, bukan terang-terangan.
Bagian akhir hadits ini juga melegakan — bila nasihat sudah disampaikan dengan cara yang benar lalu tetap ditolak, kewajiban Anda sudah gugur.
9. Menasihati Sesuai Kemampuan
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده . فإن لم يستطع فبلسانه . فإن لم يستطع فبقلبه .وذلك أضعف الإيمان
“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)
Allah Swt. memerintahkan umat-Nya untuk tidak berdiam diri melihat kemungkaran; Dia menghendaki umat ini saling menasihati dan beramar ma’ruf nahyi munkar.
Hanya saja kadar dan kemampuan setiap orang berbeda-beda, dan hadits ini memberi tingkatan yang jelas sesuai kemampuan itu. Karena itu Anda perlu tahu waktu dan tahu diri sebelum menasihati seseorang. Wallaahu A’lam
Kesimpulan
Tiga hadits pertama menegaskan bahwa menasihati itu wajib dan merupakan hak sesama muslim. Enam hadits berikutnya mengatur caranya: luruskan niat, buang kesombongan, sampaikan dengan lembut, jangan mencela, pilih cara tertutup untuk pemimpin, dan ukur sesuai kemampuan Anda sendiri.
Nasihat yang benar isinya tetapi salah caranya sering kali gagal sampai. Karena itu keduanya perlu dijaga bersamaan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah menasihati sesama muslim hukumnya wajib?
Dalam hadits baiat Jarir bin ‘Abdillah, memberi nasihat kepada setiap muslim disebut sejajar dengan menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Dari posisi kalimat itu disimpulkan bahwa menasihati sesama muslim adalah kewajiban, bukan sekadar kebaikan tambahan.
Bolehkah menasihati orang yang tidak meminta nasihat?
Boleh. Hadits tentang enam hak sesama muslim menempatkan nasihat sebagai hak yang tidak boleh ditolak ketika diminta, tetapi itu bukan berarti Anda hanya boleh menasihati saat diminta. Bila Anda melihat kemungkaran yang jelas dilakukan orang terdekat, Anda justru perlu segera menasihatinya — dengan adab yang dibahas hadits-hadits berikutnya, bukan dengan cara serampangan.
Apa yang perlu disiapkan sebelum menasihati orang lain?
Dua hal yang dikerjakan sebelum mulut terbuka: meluruskan niat dan membuang kesombongan. Niatkan menasihati karena Allah, bukan untuk mencari muka atau ingin dikenal sebagai orang alim. Lalu pastikan tidak ada rasa seolah diri Anda lebih baik daripada orang yang hendak Anda nasihati.
Bagaimana cara menasihati pemimpin atau penguasa?
Secara tertutup, bukan terang-terangan. Hadits riwayat Ahmad menyebut agar nasihat kepada penguasa disampaikan empat mata. Bagian akhir hadits itu juga menegaskan bahwa bila nasihat sudah disampaikan dengan cara yang benar lalu tetap ditolak, kewajiban Anda sudah gugur.
Bagaimana jika tidak mampu menasihati dengan lisan?
Hadits tentang mengubah kemungkaran memberi tingkatan sesuai kemampuan: ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu dengan lisan, dan jika tidak mampu juga maka dengan hati — dan itu adalah selemah-lemahnya iman.
Catatan redaksi: panduan ini menggabungkan beberapa tulisan hadits tentang nasihat yang sebelumnya terpisah di situs ini, disatukan pada 23 September 2026.
Baca juga:
Hadits Tentang Ukhuwah Islamiyah
Hadits Tentang Berbuat Baik Kepada Sesama Manusia

Membantu Anda menelusuri informasi seputar kehalalan produk yang beredar di tengah masyarakat. Saat ini sedang menimba ilmu sebagai mahasiswa Fakultas Ushuluddin di Universitas Al-Azhar, Mesir.