Mirin dan Sake: Kenapa Haram Meski Dipakai Sedikit

Mirin dan sake adalah dua bumbu yang paling sering menjadi titik kritis pada masakan Jepang. Keduanya dinilai haram untuk dipakai dalam masakan — bukan karena kadar alkoholnya tinggi, melainkan karena keduanya tergolong khamr.

Konsekuensinya penting dan sering mengejutkan: takarannya tidak menjadi pembeda, dan dipanaskan sampai menguap pun tidak mengubah statusnya.

Artikel ini menjelaskan dasar penilaian itu, kenapa alasan “alkoholnya menguap saat dimasak” tidak diterima, bedanya dengan etanol yang dibolehkan, dan cara praktis memastikan restoran Jepang yang Anda datangi.

Apa Itu Mirin dan Sake

Keduanya berkerabat dekat, dan memahami hubungannya memudahkan sisanya.

Sake adalah minuman beralkohol khas Jepang hasil fermentasi beras. Dalam dunia masak, ia dipakai terutama untuk menghilangkan bau amis pada ikan dan daging, serta melunakkan teksturnya.

Mirin adalah bumbu cair berwarna kuning dan berasa manis, lazim dijual dengan kadar alkohol sekitar 14 persen. Ia dibuat dari paduan sake dengan gula, dan dipakai untuk memberi rasa manis sekaligus kilap pada saus seperti teriyaki.

Karena fungsinya melekat pada hampir semua saus Jepang klasik, keduanya muncul di banyak tempat yang tidak terduga — bukan hanya pada hidangan yang terasa “berbumbu”, tetapi juga pada olesan tipis di atas sushi panggang atau pada kuah yang terasa biasa saja.

Kenapa Mirin dan Sake Dinilai Haram

Penjelasan yang paling sering beredar adalah soal kadar alkohol. Penjelasan itu tidak salah, tetapi meleset dari inti persoalannya.

LPPOM MUI menyatakan bahwa penggunaan rum, mirin, angciu, sake, bir, serta red atau white wine pada berbagai makanan hukumnya haram. Alasannya dinyatakan dengan jelas: keharamannya bukan hanya disebabkan kandungan etanolnya yang tinggi, melainkan karena produk tersebut tergolong khamr.

Perbedaan ini menentukan segalanya. Kalau persoalannya semata kadar etanol, maka mengecilkan takaran bisa menyelesaikannya. Tetapi kalau persoalannya adalah identitas bahannya sebagai khamr, maka takaran tidak lagi relevan — sedikit atau banyak, memabukkan atau tidak, statusnya sama.

Cara memeriksanya pun berubah mengikuti logika itu. Pertanyaan yang relevan bukan “berapa kadar alkohol pada hidangan ini?” melainkan “bahan apa saja yang masuk ke dalamnya?” Pertanyaan pertama mengarah ke uji laboratorium pada produk jadi, sedangkan pertanyaan kedua mengarah ke penelusuran bahan di dapur — dan yang kedua inilah yang dikerjakan dalam proses sertifikasi halal.

Rujukan yang dipakai untuk mendefinisikan khamr dan batas kadarnya adalah Fatwa MUI Nomor 10 Tahun 2018 tentang Produk Makanan dan Minuman yang Mengandung Alkohol/Etanol. Dalam ketentuan itu, minuman dengan kadar etanol di atas 0,5 persen tergolong khamr, yang dinilai haram dan najis, baik sedikit maupun banyak.

Apakah Memasak Menghilangkan Alkoholnya

Ini keberatan yang paling sering diajukan, dan jawabannya punya dua lapis.

Secara teknis, memang sebagian alkohol menguap saat dipanaskan. Namun penguapannya tidak sesempurna yang dibayangkan: seberapa banyak yang tersisa bergantung pada suhu, lama memasak, dan apakah wadahnya tertutup. Saus yang hanya dipanaskan sebentar di akhir memasak menyisakan jauh lebih banyak daripada kuah yang direbus lama.

Namun lapis kedua ini yang menentukan. LPPOM MUI menilai alasan pemanasan tidak menghilangkan status haramnya, karena zat tersebut sudah masuk dan bercampur ke dalam makanan. Penilaiannya berpijak pada bahan apa yang dimasukkan, bukan pada berapa persen yang tersisa setelahnya.

Dengan kerangka itu, pertanyaan “apakah alkoholnya masih ada?” menjadi tidak menentukan. Yang menentukan adalah pertanyaan sebelumnya: apakah khamr pernah dimasukkan ke dalam masakan itu.

Bedanya dengan Etanol yang Dibolehkan

Di sinilah banyak pembaca bingung, karena etanol juga muncul pada produk yang bersertifikat halal. Dua hal berikut tidak sama.

Perbandingan khamr seperti mirin dan sake yang haram dengan etanol non-khamr yang mubah
Khamr dan etanol non-khamr dinilai berbeda berdasarkan asal bahannya, bukan kadarnya.
PembedaKhamrEtanol non-khamr
AsalnyaMinuman beralkohol: sake, mirin, angciu, bir, wine, rumSintetis petrokimia, atau fermentasi dari industri selain khamr
KenajisannyaDinilai najisDinilai tidak najis
Pemakaian pada makananHaram, tanpa memandang takaranMubah, selama tidak membahayakan secara medis

Artinya keberadaan etanol pada daftar komposisi tidak otomatis berarti produknya haram. Yang perlu ditelusuri adalah asalnya. Etanol sisa fermentasi alami pada tapai atau roti, misalnya, berbeda kedudukannya dengan mirin yang sengaja ditambahkan sebagai bumbu.

Untuk kosmetik dan pemakaian luar, ketentuannya lebih longgar lagi: kadar alkoholnya tidak dibatasi sepanjang tidak membahayakan kesehatan dan tidak berasal dari industri khamr.

Angciu dan Bahan Serupa di Luar Masakan Jepang

Masalah yang sama muncul di dapur lain, dan kadang luput karena orang hanya mewaspadai restoran Jepang.

Angciu adalah arak beras merah yang lazim dipakai pada masakan Tionghoa — tumisan, mi goreng, nasi goreng, dan berbagai saus. Statusnya sama dengan mirin dan sake, dan pemakaiannya jauh lebih luas di warung sehari-hari.

Rum sering muncul pada kue, es krim, dan isian cokelat, kadang tercantum sebagai “rum essence” yang perlu dibedakan dari rum asli.

Wine dipakai pada masakan Eropa untuk merendam daging atau membuat saus.

Pola yang berguna diingat: bahan-bahan ini dipakai karena fungsinya menghilangkan bau amis, melunakkan daging, atau memperkaya aroma. Begitu Anda melihat hidangan yang menonjolkan salah satu dari tiga hal itu, pertanyaan bahannya menjadi relevan — di dapur mana pun.

Kenapa Konsumen Tidak Bisa Mendeteksinya Sendiri

Bagian ini menjelaskan kenapa sertifikat halal menjadi penting justru di kategori ini.

Mirin dan sake tidak terlihat pada daftar menu. Keduanya dipakai dalam jumlah kecil sebagai bumbu, sehingga tidak muncul sebagai nama hidangan. Rasanya pun tidak mencolok — justru tujuannya memang menyatu, bukan menonjol.

Restoran juga tidak selalu menyadari persoalannya. Resep standar masakan Jepang mencantumkan keduanya sebagai bahan rutin, sehingga pemakaiannya bisa berlangsung tanpa pertanyaan khusus, terutama di dapur yang kokinya mengikuti resep asli.

Akibatnya, tidak ada cara bagi pembeli untuk memastikannya dari meja makan. Mencium, mencicipi, atau membaca menu tidak akan menjawabnya. Yang bisa menjawab hanya penelusuran bahan sampai ke level dapur — dan itu persis yang dikerjakan proses sertifikasi halal.

Cara Memastikan Restoran Jepang yang Anda Datangi

Ada urutan yang masuk akal, dari yang paling kuat ke yang paling lemah.

  1. Cari sertifikat halalnya di basis data. Buka Cek Produk Halal BPJPH dan cari dengan nama badan usaha pengelolanya, bukan nama mereknya. Ini bukti terkuat, karena berarti bahannya sudah ditelusuri pihak ketiga.
  2. Perhatikan bahwa sertifikat berlaku per produk. Menu baru atau musiman bisa saja belum terdaftar meski restorannya bersertifikat.
  3. Tanyakan langsung ke gerai bila sertifikatnya tidak ditemukan. Pertanyaan yang tepat bukan “apakah halal?” melainkan “apakah dapur memakai mirin, sake, atau angciu?” Pertanyaan spesifik lebih mungkin dijawab akurat oleh staf.
  4. Perlakukan klaim di media sosial sebagai niat baik, bukan bukti. Keterangan seperti “No Sake No Mirin” menunjukkan kesadaran pengelola terhadap persoalannya, dan itu berarti. Tetapi ia adalah pernyataan pihak restoran tentang dirinya sendiri, yang tidak bisa ditelusuri siapa pun.

Contoh bagaimana ketiganya bisa berubah seiring waktu ada pada ulasan kami tentang Sushi Yay, yang pada 2022 baru memasang klaim bebas sake dan mirin, dan kini sudah memegang sertifikat yang nomornya bisa dicek. Pertimbangan untuk restoran yang belum bersertifikat kami bahas terpisah di restoran halal tanpa sertifikat.

Hidangan yang Paling Sering Memakainya

Mengetahui di mana keduanya biasa muncul membantu Anda bertanya pada saat yang tepat, alih-alih mencurigai seluruh menu.

  • Saus teriyaki — mirin adalah salah satu bahan dasarnya, dan dialah yang memberi kilap mengilap khas saus ini.
  • Saus unagi dan saus olesan pada sushi panggang — dioleskan tipis di akhir, sehingga mudah luput dari perhatian.
  • Sukiyaki dan kuah nabe — kuahnya lazim memakai paduan kecap asin, gula, dan mirin.
  • Tare pada ramen — bumbu dasar yang menentukan rasa kuahnya, dan resep klasiknya kerap memuat sake.
  • Ikan yang direndam sebelum dipanggang — sake dipakai untuk menghilangkan bau amis sebelum proses memasak.
  • Isian gyoza dan olahan daging cincang — sake kadang ditambahkan untuk melunakkan dan menghilangkan bau.

Daftar ini bukan berarti hidangan tersebut pasti bermasalah di setiap restoran. Banyak dapur di Indonesia sudah menggantinya, terutama yang mengurus sertifikasi. Yang ingin kami sampaikan adalah di titik mana pertanyaan itu paling berguna diajukan. Pembahasan khusus soal kuah ramen kami uraikan di ramen halal.

Apa yang Dipakai sebagai Gantinya

Pertanyaan wajar berikutnya: kalau mirin dan sake tidak dipakai, rasanya tidak berubah?

Dapur yang bersertifikat umumnya menggantinya dengan kombinasi bahan yang meniru fungsinya. Rasa manis dan kilap dari mirin bisa didekati dengan gula atau sirup ditambah sedikit cuka beras. Fungsi sake dalam menghilangkan bau amis bisa digantikan perasan jeruk, jahe, atau cuka. Sebagian produsen juga memasarkan mirin dan sake versi tanpa alkohol yang memang dibuat untuk keperluan ini.

Soal cuka sendiri kerap menimbulkan pertanyaan tersendiri karena sebagian jenisnya melewati proses fermentasi. Kedudukannya kami bahas terpisah di cuka beras halal atau tidak.

Hasilnya tidak selalu identik dengan resep aslinya, dan koki yang jujur biasanya mengakui itu. Tetapi perbedaannya jauh lebih kecil daripada yang dibayangkan, dan untuk sebagian besar hidangan tidak terdeteksi oleh pembeli biasa.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah mirin dan sake haram meski hanya sedikit?

Ya. Karena keduanya tergolong khamr, takarannya tidak menjadi pembeda. LPPOM MUI menyatakan sedikit atau banyak, memabukkan atau tidak, statusnya tetap sama.

Kalau dimasak sampai alkoholnya menguap, apakah jadi halal?

Tidak. LPPOM MUI menilai pemanasan tidak menghilangkan status haramnya, karena zat tersebut sudah masuk dan bercampur ke dalam makanan. Penilaiannya berpijak pada bahan yang dimasukkan, bukan pada sisa kadarnya.

Apakah semua makanan yang mengandung etanol haram?

Tidak. Yang dipersoalkan adalah etanol yang berasal dari khamr. Etanol dari industri non-khamr dinilai tidak najis dan boleh dipakai pada makanan selama tidak membahayakan secara medis.

Apa itu angciu dan apakah sama dengan mirin dan sake?

Angciu adalah arak beras merah yang lazim dipakai pada masakan Tionghoa seperti tumisan dan nasi goreng. Kedudukannya sama, dan pemakaiannya justru lebih luas di warung sehari-hari.

Bagaimana cara tahu restoran memakai mirin atau tidak?

Tidak bisa dideteksi dari rasa atau daftar menu. Cara yang bisa diandalkan adalah memeriksa sertifikat halalnya di basis data BPJPH, atau menanyakan bahannya secara spesifik ke gerai.

Penutup

Yang membuat mirin dan sake menjadi persoalan bukan karena keduanya langka atau mencolok, melainkan justru sebaliknya. Keduanya adalah bumbu rutin yang bekerja diam-diam, dipakai sedikit, dan memang dirancang untuk tidak terasa sebagai bahan terpisah.

Karena itu kehati-hatian di kategori ini tidak bisa bersandar pada indra. Ia bersandar pada dokumen — dan untungnya dokumen itu sekarang terbuka dan bisa dicari siapa saja dalam hitungan menit.

Satu langkah untuk hari ini: pilih satu restoran Jepang yang biasa Anda datangi, cari nama badan usahanya di Cek Produk Halal BPJPH, dan lihat apakah menunya terdaftar. Kalau ternyata belum, Anda masih punya pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan saat berkunjung.

Bagaimana kami memeriksa status halal dan izin edar produk: baca Metodologi Verifikasi & Kebijakan Koreksi Halalan.id.