Hadits tentang menjelek-jelekan orang lain menegaskan satu hal: mencela sesama muslim bukan perkara ringan. Panduan ini mengumpulkan hadits-hadits tersebut beserta lafaz Arab, terjemahan, dan perawinya — mulai dari larangan mencela saudara karena dosanya, hukum menghina fisik, sikap yang dituntun Rasulullah ketika Anda sendiri yang dihina, sampai keutamaan memaafkan orang yang menghina Anda.
Catatan redaksi: panduan ini menggabungkan beberapa tulisan hadits di Halalan.id yang sebelumnya terbit terpisah — tentang menjelek-jelekan orang lain, menghina fisik orang lain, orang yang dihina, dan memaafkan orang lain — menjadi satu halaman pada 23 September 2026. Seluruh lafaz hadits, terjemahan, dan penisbatan perawinya disalin apa adanya dari artikel-artikel asal tersebut.
Hadits Tentang Menjelek-jelekan Orang Lain
1. Larangan Menjelek-jelekan Orang Lain Karena Dosanya
ﻣَﻦْ ﻋَﻴَّﺮَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺑِﺬَﻧْﺐٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻤُﺖْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻌْﻤَﻠَﻪُ
“Siapa yang menjelek-jelekan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi)
Tentu diantara kita sudah memahami bahwa manusia merupakan tempatnya dosa. Karena itu setiap manusia pastinya memiliki dosa tersendiri yang pernah dilakukan. Nah, ketika Anda sudah mengetahui dosa yang telah diperbuat oleh muslim lainnya, maka jangan sampai Anda mencelanya dengan dosa yang telah ia lakukan.
Karena jika sampai itu terjadi, Allah telah berjanji tidak akan mencabut nyawa orang tersebut sampai ia melakukan dosa yang pernah diperbuat saudaranya.
2. Suatu Keburukan yang Amat Buruk
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim).
Menjelek-jelekkan seorang muslim dengan apa yang ada pada dirinya merupakan sikap yang sangat merendahkan. Dan merendahkan seorang muslim itu berarti ia seolah merasa lebih tinggi dari orang tersebut dan juga termasuk daripada sikap kesombongan yang sangat dibenci Allah.
3. Tidak Membalas Orang Yang Menjelekkanmu
وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ
“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.
Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan.
Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud)
Jika Anda berada pada pihak yang dijelek-jelekkan oleh orang lain, maka langkah terbaik yang Anda lakukan berdasarkan hadits ini adalah dengan mendiamkan orang yang telah merendahkan Anda. Biarlah umpatan hina tersebut berlalu layaknya gonggongan anjing yang tak bernilai. Selain itu, biarkanlah pelaku tersebut yang akan menanggung dosanya di akhirat kelak.
4. Termasuk Perbuatan Fasik
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سِبَابُ المٌسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْر
Dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Mencela seorang muslim merupakan kefasikan dan memeranginya merupakan kekufuran.’” (HR Bukhari dan Muslim)
Jika ada seorang muslim yang melakukan aktivitas penghinaan, perendahan martabat, mencaci orang lain dan yang semisalnya, maka dia telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kefasikan yang sangat nyata. Dan bagi orang yang fasik, maka azab Allah akan menantinya di akhirat kelak.
5. Terjungkal ke Neraka
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﺑِﺎﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ ﻟَﺎ ﻳَﺮَﻯ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﺄْﺳًﺎ ﻳَﻬْﻮِﻱ ﺑِﻬَﺎ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﺧَﺮِﻳﻔًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
“Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama tujuh puluh tahun di dalam neraka.” (HR Tirmidzi)
Dalam hadits ini, dikisahkan bahwa ada seseorang yang menganggap bahwa ucapan yang telah dilontarkannya adalah sesuatu hal yang tidak berbahaya. Tapi ternyata, ucapan berupa satu kalimat tersebut yang notabene cacian terhadap seseorang merupakan sebuah perkara besar. Karena itulah, pada akhirnya dia dijerumuskan oleh Allah ke dalam neraka. Wallaahu A’lam
Hadits Tentang Menghina Fisik Orang Lain
1. Keharaman Menghina Fisik
ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻗُﻠْﺖُ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﺣَﺴْﺒُﻚَ ﻣِﻦْ ﺻَﻔِﻴَّﺔ ﻛَﺬَﺍ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺮُّﻭَﺍﺓُ : ﺗَﻌْﻨِﻲْ ﻗَﺼِﻴْﺮَﺓٌ , ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻟَﻘَﺪْ ﻗُﻠْﺖِ ﻛَﻠِﻤَﺔً ﻟَﻮْ ﻣُﺰِﺟَﺖْ ﺑِﻤَﺎﺀِ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ ﻟَﻤَﺰَﺟَﺘْﻪُ
Dari Aisyah beliau berkata, “Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Cukup bagimu dari Shafiyah Ini dan itu.”
Sebagian rawi berkata, “Aisyah mengatakan Shafiyah pendek”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat, yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya (karena sangat kotor dan bau sehingga bisa merubah air laut).” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Rasulullah SAW dalam hadits di atas telah menegur bahkan cenderung memarahi istri tercintanya yaitu Sayyidah Aisyah karena telah mencela istri beliau yang lain yaitu Sayyidah Shafiyyah dengan ungkapan yang sangat body shaming. Ya, Sayyidah Aisyah menghina fisik Sayyidah Shafiyyah dengan menyebut Shafiyyah Pendek.
Karena itu, sudah sangat jelas bahwa menghina fisik orang lain mau bagaimanapun keadaannya adalah sebuah keharaman. Apalagi jika itu dilakukan secara verbal seperti apa yang dilakukan Sayyidah Aisyah kepada Sayyidah Shafiyyah.
Adapun indikasi keharaman perbuatan tersebut ialah karena Baginda Nabi SAW mengibaratkan kalimat Sayyidah Aisyah yang menghina tersebut dapat merubah air laut menjadi kotor dan bau. Itu berarti menunjukkan betapa buruknya perbuatan menghina fisik orang lain.
2. Keharaman Menghina Fisik dengan Isyarat
Dari Anas bin Mas’ud R.A dia berkata,
كنتُ أجتَني لرسولِ اللهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ مِنَ الأراكِ قال فضحِكَ القَومُ مِن دقَّةِ ساقي فقالَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ ممَّ تَضحكونَ قالوا مِن دقَّةِ ساقَيهِ فقالَ والَّذي نَفسي بيدِهِ لهِيَ أثقَلُ في الميزانِ مِن أُحُدٍ
Aku bersama dengan Rasulullah Saw sedang mengambil ranting untuk dijadikan siwak, kemudian angin berhembus dan menyingkap betisnya yang kecil, lalu para sahabat tertawa karena melihat betis Ibnu Mas’ud yang kecil.
Nabi shallallahu alaihi wasallam menegur para sahabat dan berkata, “Apa yang membuat kalian tertawa?” Mereka berkata, “Wahai Nabi Allah, karena kedua betisnya yang kurus.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan daripada gunung Uhud. (HR Abi Daud)
Sama dengan hadits yang pertama, hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik ini mempertegas status keharaman dari perbuatan menghina fisik orang lain. Selain itu, hadits ini juga menjelaskan bahwa bukan hanya menghina secara verbal saja yang diharamkan, melainkan secara non verbal pun tetap diharamkan.
Hal tersebut karena para sahabat dalam riwayat di atas pada hakikatnya tidak secara langsung menghina fisik dari Anas bin Malik dengan lisan, mereka pada saat tersebut hanya sekedar menertawakan betisnya Anas bin Malik. Namun justru, perbuatan para sahabat tersebut langsung ditegur oleh baginda Nabi.
Sehingga dari hal ini dapat disimpulkan bahwa haram bagi seorang muslim untuk menghina fisik saudaranya baik secara verbal maupun non verbal.
3. Rasulullah Tidak Suka Menghina Fisik Orang Lain
ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻭَﺣَﻜَﻴْﺖُ ﻟَﻪُ ﺇِﻧْﺴَﺎﻧًﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﺃُﺣِﺐُّ ﺃَﻧِّﻲْ ﺣَﻜَﻴْﺖُ ﺇِﻧْﺴَﺎﻧًﺎ ﻭَ ﺇِﻥَّ ﻟِﻲْ ﻛَﺬَﺍ
Dari Aisyah R.A ia berkata, “Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ”Saya tidak suka meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang (walaupun) saya mendapatkan sekian dan sekian”. (HR Abu Daud)
Tidak jauh berbeda dengan dua hadits sebelumnya, Rasulullah Saw. kembali menjelaskan kepada ummatnya untuk tidak melakukan penghinaan terhadap kecacatan fisik yang ada pada diri orang lain. Sama saja, baik itu menghina dihadapannya secara langsung maupun dilakukan ketika objek yang dihinanya tidak ada.
4. Hewan Saja Dilarang Untuk Dihinakan
لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يُوقِظُ لِلصَّلَاةِ
“Janganlah Engkau mencela ayam jantan, karena sesungguhnya ayam jantan itu yang membangunkan kalian shalat.” (HR. Abu Dawud)
Dalam hadits di atas Rasulullah dengan tegas melarang kita selaku ummatnya untuk menghina ayam jantan, hal ini karena hewan tersebut setiap pagi membangunkan manusia agar bisa beribadah shalat shubuh secara tepat waktu.
Jika ayam jantan saja yang merupakan hewan dan bukan mahluk yang berakal saja tidak boleh dihina, lalu bagaimana dengan manusia? Tentu larangannya lebih berlaku bukan? Apalagi seluruh manusia merupakan mahluk Allah yang paling mulia.
Karena itu, jelas perbuatan saling mencaci tidak boleh dilakukan antar sesama manusia. Wallaahu A’lam
5. Mendapatkan Hukuman Ta’zir
ولقد سئل الإمام علي كرم الله وجهه عن قول الرجل للرجل: يا فاسق يا خبيث، فقال: هن فواحش فيهن التعزير وليس فيه حد
Diriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya tentang hukuman bagi orang yang menghina orang lain, maka beliau radhiyallahu ‘anhu berkata: Itu perbuatan buruk, terdapat hukuman ta’zir (hukuman yang kadarnya tidak ditentukan secara baku oleh syari’at), namun tidak ada hukuman hadd (hukuman baku yang telah ditentutan kadarnya oleh syari’at) untuknya.” (HR. Al-Baihaqi)
Hadits di atas termasuk dalam hadits mauquf yang notabene merupakan hadits yang disandarkan kepada sahabat. Adapun sahabat yang menjelaskan hadits ini adalah Imam Ali bin Abi Thalib.
Menurut beliau, orang yang menghina fisik orang lain layak dijatuhi hukuman ta’zir. Hukuman ta’zir sendiri merupakan 1 dari 4 macam hukuman yang diterapkan oleh negara islam. Jenis hukumannya akan ditentukan sesuai ketetapan dari Khalifah. Karena itu, bisa saja nanti hukuman bagi yang suka menghina fisik adalah dipenjara, denda, pengabdian masyarakat, dan yang lainnya. Wallaahu A’lam
Hadits Tentang Orang yang Dihina dan Sikap Menghadapinya
1. Mendapatkan Transfer Pahala dari Orang yang Menghina
أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”
Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)
Dalam hadits ini, sangat jelas bahwa Rasulullah SAW memberikan dua kabar sekaligus, yaitu kabar baik bagi orang yang dizalimi dan kabar buruk bagi orang yang gemar berlaku zalim.
Bagaimana tidak, sudah sangat jelas jika Baginda Nabi mengabarkan siapa saja yang di dunianya pernah mencaci atau menghina, menuduh, korupsi dan berbagai kezaliman lainnya yang sudah disebutkan di atas, maka mereka akan mendapatkan azab berupa lenyapnya pahala yang telah mereka kumpulkan.
Nah, bagi siapapun yang terdzalimi, maka dia akan mendapatkan transferan pahala dari orang yang pernah menzaliminya selama permasalah antara keduanya tidak terselesaikan di kehidupan dunia.
2. Anjuran Untuk Mendiamkan Orang yang Menghina
Lafaz hadits untuk poin ini sudah dikutip utuh pada poin 3 bagian pertama di atas, sebagai bagian dari wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jabir bin Sulaim. Dalam artikel asal, penggalan itu dikutip tersendiri dengan penisbatan (HR Abu Daud dan Tirmidzi).
Secara manusiawi, siapapun tentu akan marah ketika dirinya dihina. Baik itu hinaannya berupa menghina fisik, ekonomi, ilmu, atau bahkan orang tua. Namun, dari hadits ini Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk senantiasa sabar dan tidak membalas hinaan siapapun yang menghina kita.
Biarkanlah orang tersebut menghina kita sepuasnya, karena dia sendirilah yang nanti akan mendapatkan ganjaran setimpal dari Allah.
3. Tidak Ada Dosa bagi yang Membalas Hinaan Sewajarnya
الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى الْبَادِئِ، مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ
“Apabila ada dua orang yang saling mencaci-maki, maka cacian yang diucapkan oleh keduanya itu, dosanya akan ditanggung oleh orang yang memulai, selama orang yang dizalimi itu tidak melampaui batas.” (HR Muslim dan Abu Dawud)
Jika Anda merupakan pihak yang dihinakan oleh seseorang, maka sudah barang tentu Anda akan merasa kesal dan ingin membalaskan hinaan tersebut. Tidak salah memang, karena hal itu merupakan suatu hal yang sangat manusiawi dan merupakan bagian dari salah satu naluri bernama gharizah baqo.
Ketika mengalami kejadian tersebut, Anda berhak untuk membalas hinaan tersebut dan tidak akan mendapatkan dosan karena. Hanya saja pembalasannya tidak boleh berlebihan atau bahkan lebih frontal daripada orang yang menghina Anda terlebih dahulu.
Dalam hadits di atas, dosa saling mencaci-maki antara dua orang itu akan ditanggung oleh pihak yang memulai. Hal ini dengan syarat bahwa pihak yang dicaci itu tidak melampaui batas, yaitu tidak membalas cacian dengan kuantitas dan kualitas yang lebih jelek.
Jika dia membalas dengan cacian yang lebih jelek (baik secara kuantitas atau kualitas), maka dosa melampaui batas itu dia tanggung sendiri, sedangkan sisanya ditanggung oleh pihak yang memulai.
Hadits Tentang Memaafkan Orang yang Menghina
1. Iman yang Paling Utama
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أفضل الإيمان الصبر و السماحة
“Rasulullah ﷺ bersabda, “Iman yang paling utama adalah sabar dan pemaaf atau lapang dada.” (HR Ahmad)
Ketahuilah, memberikan maaf kepada orang lain sangatlah berat dan sangat sulit dilakukan. Apalagi jika kesalahan yang dilakukan orang lain tersebut sangat besar dan memberikan dampak yang berkepanjangan bagi kita. Bahkan dampaknya tersebut bagaikan paku yang menancap dalam jiwa, sehingga jika dilepas pun akan menimbulkan bekas yang tak bisa lenyap.
Namun meskipun begitu, siapa saja yang berlapang dada dan memaafkan kesalahan saudaranya, ia pada hakikatnya memiliki tingkat keimanan kepada Allah yang sangat tinggi. Sehingga dengan begitu, ia akan lebih lapang dan semakin dekat dengan Tuhan Sang Semesta Alam.
2. Ditinggikan Derajatnya dan Dimuliakan Allah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ : مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زادَ اللهُ عَبْداً بعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً، وَمَا تَوَاضَعَ أحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ. رواه مسلم وغيره
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya,) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat).”
Catatan sumber: dua artikel Halalan.id yang memuat hadits ini menuliskan penisbatan yang berbeda dalam bahasa Indonesia — yang satu (HR Muslim), yang lain (HR Ibnu Abdil Barr) — padahal baris Arab pada keduanya sama-sama ditutup dengan رواه مسلم وغيره. Kedua penisbatan itu ditampilkan apa adanya di sini dan belum dibetulkan, karena penentuannya bukan wewenang penyunting halaman ini.
Hadits di atas memang tidak secara langsung menyebutkan untuk memaafkan orang yang menghina kita. Hanya saja riwayat tersebut merupakan sebuah riwayat umum yang memerintahkan seorang muslim untuk memaafkan setiap kesalahan yang dilakukan oleh saudaranya.
Baik itu kesalahan berupa pernah dihina, dicaci, disakiti, difitnah, dan yang semisalnya. Jika itu kita lakukan, maka kita akan ditinggikan derajatnya oleh Allah di akhirat kelak.
Dalam hadits ini, Rasulullah memberikan kabar gembira kepada ummatnya. Kabar tersebut berupa penjelasan bahwa Allah akan meninggikan derajat beberapa hamba-Nya disebabkan perbuatan hamba tersebut. Siapakah hamba tersebut? Ya, dialah yang gemar bersedekah dan yang selalu membuka pintu maaf kepada saudaranya.
Yang harus diingat adalah, ketika Allah telah meninggikan derajat seorang hamba, maka kelak insya Allah ia akan bahagia di dunia dan di akhirat.
3. Ditolong Allah
يَا رَسُول اللَّه، إِنَّ لِي قَرابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُوني، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِم وَيُسِيئُونَ إِليَّ، وأَحْلُمُ عنهُمْ وَيَجْهَلُونَ علَيَّ، فَقَالَ: لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ المَلَّ، وَلا يَزَالُ معكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلكَ
“Wahai Rasulullah, saya memiliki kerabat, saya sambung tapi mereka malah memutuskan silaturahmi, mereka berbuat buruk kepada saya tapi saya berusaha untuk berbuat baik kepada mereka.
Mereka berbuat jahil kepada saya tapi saya sabar tidak ingin membalas dengan yang sama. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘jika yang kamu katakan itu benar, maka seakan-akan kamu menaburkan debu panas ke wajahnya dan senantiasa Allah akan menolong kamu selama kamu terus berbuat seperti itu.’” (HR. Muslim)
Pada hadits di atas, diceritakan ada seorang sahabat nabi yang memiliki nasib kurang bagus. Ya, dia selalu berbuat baik kepada saudaranya, hanya saja saudaranya tersebut berlaku kurang baik bahkan hingga memutuskan tali silaturahminya. Bahkan tidak hanya sampai disitu, sahabat tersebut juga kadang mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari saudaranya.
Namun meskipun begitu, sahabat tadi tetap berusaha berbuat baik dan selalu sabar serta membuka selebar-lebarnya pintu maaf jika seandainya saudaranya tersebut ingin meminta maaf.
Nah, dalam menyikapi hal ini Rasulullah SAW sangat mendukung apa yang dilakukan sahabatnya. Bahkan beliau menyemangati sahabat tersebut bahwa dia akan ditolong oleh Allah selama dia berlaku demikian. Itu artinya, siapa saja yang selalu berbuat baik dan membuka pintu maaf selebar-lebarnya, maka ia akan ditolong oleh Allah.
4. Maafkan dan Biarkanlah
Penggalan wasiat kepada Jabir bin Sulaim yang sudah dikutip di atas — dalam artikel asal dinisbatkan (HR. Abu Daud) — juga dijadikan dasar untuk memaafkan, bukan sekadar menahan diri.
Hadits ini menggambarkan betapa mulianya yang ajaran yang diajarkan oleh Nabi SAW. Ketika kita dipermalukan dan dihina, maka kita tidak perlu balas dengan menghina dan mencela orang tersebut walau kita tahu kekurangan yang ada pada dirinya dan bisa menjatuhkannya. Biarlah akibat jelek dari mencela dan menjatuhkan itu, akan ditanggung di akhirat.
5. Akan Dibangunkan Rumah di Surga
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus ahlaknya.” (HR. Abu Daud)
Jika dilihat dari segi lafadznya, hadits ini memang tidak secara langsung menyebut atau bahkana menyinggung orang yang gemar membuka pintu maaf. Namun jika teliti lebih dalam lagi, salah satu orang yang bagus ahlaknya adalah dia yang selalu berlapang dada untuk memberikan maaf kepada saudaranya. Karena itu, siapa saja yang berbuat demikian, maka insya Allah akan dibangukan rumah baginya di surga. Wallaahi A’lam
Kesimpulan
Dari seluruh hadits di atas, menjelek-jelekan orang lain berdiri sebagai perbuatan tercela dari dua sisi sekaligus. Dari sisi pelakunya, mencela seorang muslim disebut sebagai kefasikan, cukup menjadikan seseorang berbuat keburukan, dan bisa menjerumuskannya ke neraka hanya karena satu kalimat. Larangannya berlaku baik secara lisan maupun lewat isyarat, dan bahkan mencakup hewan.
Dari sisi orang yang dihina, hadits-hadits di atas justru membawa kabar baik: pahala orang yang menzalimi akan berpindah kepada yang dizalimi, sementara sikap menahan diri dan memaafkan dibalas dengan kemuliaan, pertolongan Allah, dan rumah di surga. Wallaahu A’lam
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa hukum menjelek-jelekan atau mencela sesama muslim?
Berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud RA di atas, mencela seorang muslim merupakan kefasikan dan memeranginya merupakan kekufuran (HR Bukhari dan Muslim). Hadits lain menyebut bahwa cukuplah seseorang berbuat keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim (HR. Muslim).
Apakah menghina fisik orang lain juga termasuk larangan ini?
Ya. Rasulullah menegur Sayyidah Aisyah yang menyebut Shafiyyah pendek, dan mengibaratkan kalimat itu sanggup mengubah air laut. Beliau juga menegur para sahabat yang hanya menertawakan betis yang kecil — sehingga artikel asal menyimpulkan larangan itu berlaku baik secara verbal maupun non verbal.
Bolehkah membalas hinaan orang lain?
Hadits-hadits di halaman ini menekankan dua hal yang berbeda, dan keduanya berasal dari tulisan yang berbeda. Wasiat kepada Jabir bin Sulaim menuntun untuk tidak membalas hinaan dan membiarkan akibat buruknya ditanggung pelakunya (HR. Abu Daud). Sementara hadits al-mustabbani menyatakan dosa saling mencaci ditanggung oleh yang memulai selama yang dizalimi tidak melampaui batas (HR Muslim dan Abu Dawud) — yang oleh artikel asal dipahami sebagai kebolehan membalas sewajarnya. Keduanya ditampilkan apa adanya di sini.
Apa yang didapat orang yang dihina?
Menurut hadits al-muflis (HR Muslim), orang yang di dunia mencaci, menuduh, atau menzalimi orang lain akan menyerahkan pahala kebaikannya kepada orang-orang yang ia zalimi pada hari Kiamat. Jika kebaikannya habis, dosa mereka justru ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.
Apa keutamaan memaafkan orang yang menghina kita?
Sabar dan lapang dada disebut sebagai iman yang paling utama (HR Ahmad). Orang yang tetap berbuat baik meski dibalas buruk dijanjikan pertolongan Allah selama ia bertahan pada sikap itu (HR. Muslim), dan orang yang bagus akhlaknya dijamin rumah di surga yang tinggi (HR. Abu Daud).
Baca juga:
Hadits Tentang Menghargai Perasaan Orang Lain
Kumpulan Hadits tentang Berbuat Baik Kepada Sesama Manusia
Kumpulan Hadits tentang Orang yang Membenci Kita
Kumpulan Hadits Tentang Wanita Yang Berkata Kasar

Membantu Anda menelusuri informasi seputar kehalalan produk yang beredar di tengah masyarakat. Saat ini sedang menimba ilmu sebagai mahasiswa Fakultas Ushuluddin di Universitas Al-Azhar, Mesir.