15 Hadits Tentang Syahadat, Syirik, dan Fitrah Manusia

Hadits tentang syahadat menempatkan dua kalimat persaksian sebagai kunci surga sekaligus pondasi Islam. Halaman ini mengumpulkan 15 hadits yang saling terkait: keutamaan syahadat, ancaman bagi perbuatan syirik yang menjadi lawannya, serta fitrah manusia yang menurut hadits lahir di atas Islam. Semua lafaz Arab, terjemahan, dan perawinya Anda temukan lengkap di bawah.

Catatan redaksi: panduan ini menggabungkan beberapa tulisan hadits yang sebelumnya terpisah di Halalan.id, disatukan menjadi satu halaman pada 23 September 2026.

Hadits Tentang Syahadat: Dalil dan Keutamaannya

Lima hadits berikut berbicara langsung tentang kedudukan dan keutamaan dua kalimat syahadat.

1. Kunci Surga

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَاإِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ ، وَالْـجَـنَّـةَ حَـقٌّ ، وَالنَّارَ حَـقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللهُ الْـجَنَّـةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ.

“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada ilah (sembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain Allâh saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; dan bahwa ‘Isa adalah hamba Allâh dan Rasul-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh dari-Nya; dan bahwa surga adalah benar adanya dan neraka adalah benar adanya, maka Allâh pasti memasukkannya ke dalam surga bagaimanapun amal yang telah diperbuatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sebagai manusia yang mempercayai akan adanya masa setelah kehidupan dunia, tentu akan sangat berharap dan menginginkan sekali untuk masuk surga. Betapa tidak, surga merupakan tempat penuh kenikmatan yang tiada bandingannya.

Jika berdasarkan hadits di atas, maka salah satu caranya adalah dengan melafalkan dua kalimat syahadat. Tidak sekedar diucapkan, tentu syahadat tersebut harus dimanifestasikan dalam perbuatan sehari-hari berupa mentaati perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

2. Terjaga Harta dan Darahnya

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوْا الصَّلَاةَ، وَيُؤْتُوْا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذٰلِكَ عَصَمُوْا مِنِّيْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالَى.

“Aku diperintah memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (sembahan) yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh dan bahwa Muhammad adalah utusan Allâh, mendirikan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka melaksanakan hal tersebut, maka darah dan harta mereka terlindungi dariku, kecuali dengan hak Islam dan hisab (perhitungan) mereka diserahkan kepada Allâh.” (HR Bukhari dan Muslim)

Pada hadits di atas, Baginda SAW dengan jelas menyatakan bahwasanya salah satu tujuannya diutus ke tengah-tengah manusia adalah untuk memerangi dalam hal ini mendakwahi bani Adam agar mengucapkan dua kalimat syahadat, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.

Karena itu, tidak heran jika Beliau SAW semasa hidupnya sangat bersemangat mengemban risalahnya kepada berbagai kabilah yang ada di tanah arab. Bahkan, beliau memang betul-betul memerangi siapa saja yang enggan masuk islam jika mereka sudah tidak bisa didakwahi lagi dengan cara yang santun dan lemah lembut.

Namun yang harus Anda perhatikan, hadits ini tidak serta merta mengajarkan umatnya untuk keras kepada non muslim. Sebab orang kafir itu sendiri hanya dapat kita perangi jika mereka menyerang dan menzalimi islam terlebih dahulu.

3. Rukun Islam

وَقاَلَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَمِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ ، وَتَحُجَّ البَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

…..Selanjutnya ia berkata (Jibril, “Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.”…. (HR. Muslim, no. 8).

Hadits ini, merupakan salah satu potongan dari hadits Jibril yang datang kepada Baginda SAW ketika beliau sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Kala itu Nabi SAW ditanya oleh Jibril tentang beberapa hal, diantaranya seputar apa itu islam, iman, ihsan, hari kiamat, serta tanda-tandanya.

Ketika ditanya apa itu islam, maka Rasululllah pun menjawabnya dengan 5 hal sebagaimana hadits di atas, yang mana 5 hal tersebut kini kita kenal dengan sebutan rukun islam.

4. Pondasi Islam

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tidak jauh berbeda dengan hadits yang ketiga, hadits ini pun berbicara bahwasanya syahadat merupakan salah satu dari pondasi islam. Sebagai sebuah pondasi, tentu kedudukan syahadat dalam islam memiliki posisi yang sangat penting. Tanpa pondasi yang kokoh, tentu suatu bangunan dalam hal ini keislaman seseorang akan runtuh bukan?

Selain itu, syahadat itu sendiri bisa dikatakan melupakan pintu pendaftaran bagi siapapun jika ingin terdaftar sebagai seorang muslim. Bila ada orang rajin shalat, sudah berhaji, namun dia belum bersyahadat, maka amalannya percuma dan tidak ada harganya.

5. Seruan Kepada Dua Kalimat Syahadat

 قالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لِمُعَاذِ بنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إلى اليَمَنِ: إنَّكَ سَتَأْتي قَوْمًا أهْلَ كِتَابٍ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ، فَادْعُهُمْ إلى أنْ يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأنَّ مُحَمَّدًا رَسولُ اللَّهِ، فإنْ هُمْ أطَاعُوا لكَ بذلكَ، فأخْبِرْهُمْ أنَّ اللَّهَ قدْ فَرَضَ عليهم خَمْسَ صَلَوَاتٍ في كُلِّ يَومٍ ولَيْلَةٍ، فإنْ هُمْ أطَاعُوا لكَ بذلكَ، فأخْبِرْهُمْ أنَّ اللَّهَ قدْ فَرَضَ عليهم صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِن أغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ علَى فُقَرَائِهِمْ، فإنْ هُمْ أطَاعُوا لكَ بذلكَ، فَإِيَّاكَ وكَرَائِمَ أمْوَالِهِمْ، واتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ؛ فإنَّه ليسَ بيْنَهُ وبيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Rasululullah SAW bersabda kepada Muadz bin Jabal ketika beliau mengutus sahabatnya tersebut ke negeri Yaman, “Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah.

Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu pada setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sedekah yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah.” (HR Bukhari)

Pada hadits di atas, simpelnya Baginda Nabi SAW memerintahkan sahabat Muadz untuk mendakwahi penduduk Yaman agar masuk islam. Apabila sudah masuk islam, maka hal-hal yang harus dilakukan oleh mereka adalah dengan menjalankan beberapa perintah yang sudah ada pada lanjutan hadits tersebut. Wallaahu A’lam

Hadits Tentang Larangan Menyekutukan Allah (Syirik)

Sudah tidak diragukan lagi, perbuatan syirik yang notabene menyekutukan Allah adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Zat Yang Maha Kuasa. Hal tersebut sudah termaktub dalam berbagai ayat dan hadits.

1. Ditinggalkan Allah

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Aku tidaklah butuh adanya tandingan-tandingan. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkan dia dan perbuatan syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Dalam hadits qudsi di atas, Allah yang memang notabene memiliki sifat Qiyamuhu Binafsihi (berdiri sendiri) dengan tegas menyebut dirinya tidak butuh dengan tandingan-tandingan yang telah dibuat manusia. Karena pada hakikatnya Allah adalah Zat pemilik Alam Semesta, sehingga untuk apa membutuhkan yang lain?

Lalu Allah juga dengan sangat jelas akan meninggalkan siapa saja hamba-Nya yang melakukan perbuatan syirik seperti meminta bantuan kepada dukun dan yang semisalnya.

2. Masuk Neraka

من مات لا يشرك بالله شيئاً دخل الجنة، ومن مات يشرك به شيئاً دخل النار

“Barangsiapa yang mati dengan menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia pasti masuk neraka.” (HR Bukhari)

Tidak hanya ditinggalkan oleh Allah, orang yang musyrik dan dia mati dalam kemusyrikannya, maka dia berdasarkan hadits di atas sudah dapat dipastikan masuk ke dalam neraka yang panasnya sungguh tak terhingga. Oh ya, syirik dalam hadits ini bermakna syirik akbar ya. Yaitu syirik yang bermakna betul-betul menyekutukan Allah dengan yang lain.

3. Kezaliman Paling Fatal

الظلمُ ثلاثةٌ ، فظُلمٌ لا يغفرُهُ اللهُ ، وظلمٌ يغفرُهُ ، وظلمٌ لا يتركُهُ ، فأمّا الظلمُ الذي لا يغفرُهُ اللهُ فالشِّركُ ، قال اللهُ : إِنَّ الْشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ، وأمّا الظلمُ الذي يغفرُهُ اللَّهُ فَظُلْمُ العبادِ أنفسُهمْ فيما بينهُمْ وبينَ ربِّهمْ ، وأمّا الظلمُ الّذي لا يتركُهُ اللهُ فظُلمُ العبادِ بعضُهمْ بعضًا حتى يَدِينَ لبعضِهِمْ من بعضٍ

“Kezaliman ada tiga: kezaliman yang tidak Allah ampuni, kezaliman yang Allah ampuni dan kezaliman yang tidak mungkin dibiarkan oleh Allah. Adapun kezaliman yang tidak Allah ampuni, itu adalah kesyirikan. Allah berfirman: kesyirikan adalah kezaliman yang paling fatal.

Adapun kezaliman yang Allah ampuni adalah kezaliman seorang hamba pada dirinya sendiri, antara ia dengan Allah. Adapun kezaliman yang tidak mungkin dibiarkan oleh Allah adalah kezaliman hamba pada orang lain sampai kezaliman tersebut terbayar.” (HR. Abu Daud)

Pada hadits di atas, Allah telah membagi 3 jenis kezaliman. Diantara pembagian tersebut adalah kezaliman yang tidak akan Allah ampuni. Yang mana kezaliman tersebut berupa kesyirikan. Hal ini senada dengan firman Allah yang berbunyi:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa’: 48)

4. Dosa Paling Besar

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

“Perhatikanlah (wahai para sahabat), maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Beliau SAW mengatakannya tiga kali. Kemudian para sahabat mengatakan: “Tentu, wahai Rasûlullâh.”

Beliau SAW bersabda: “Syirik kepada Allâh, durhaka kepada kedua orang tua,” sebelumnya beliau bersandar, lalu beliau duduk dan bersabda, “Perhatikanlah! Dan perkataan palsu (perkataan dusta),” beliau selalu mengulanginya sampai kami berkata, “Seandainya beliau berhenti”. (HR al-Bukhâri dan Muslim)

5. Satu dari Tujuh Dosa Besar

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ

“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan (al-muubiqaat).” Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa yang membinasakan tersebut?” Beliau bersabda, “(1) Syirik kepada Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh kecuali jika lewat jalan yang benar, (4) makan riba, (5) makan harta anak yatim, (6) lari dari medan perang, (7) qadzaf (menuduh wanita mukminah yang baik-baik dengan tuduhan zina).” (HR. Bukhari, no. 2766 dan Muslim, no. 89)

Hadits keempat dan kelima yang ada pada artikel ini, keduanya menunjukkan dengan jelas dan lugas bahwa menyekutukan Allah merupakan perbuatan yang termasuk ke dalam salah satu dari dosa besar. Dan tentu, siapa saja pelaku dosa besar, maka dia akan lebih dipermudah jalannya menuju neraka yang siksaannya maha dahsyat. Karena itu, sudah selayaknya bagi kita untuk betul-betul menjauhi perbuatan yang sangat tercela ini. Wallaahu A’lam

Hadits Tentang Fitrah Manusia

Mungkin Anda pernah mendengar bahwa fitrah seorang manusia itu adalah menjadi seorang muslim bukan? Namun pertanyaannya, benarkah pernyataan tersebut?

Jawaban dari pertanyaan tersebut jika diulas membutuhkan waktu yang cukup lama memang, namun pada intinya pernyataan tersebut merupakan sebuah kebenaran.

1. Setiap Manusia Fitrahnya adalah Seorang Muslim

Di dalam sebuah hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,

إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا

“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa’ (Islam) semuanya. Kemudian setan datang. Lalu memalingkan mereka dari agama mereka, mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangannya.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala mengabarkan dalam hadis qudsi ini bahwa seluruh manusia pada asalnya diciptakan dalam keadaan hunafa’. Makna (hunafa’) adalah dalam keadaan Islam sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi Rahimahullah ketika mensyarah hadits tersebut. Kemudian setan dari kalangan jin dan manusialah yang menjadikan manusia berubah fitrahnya.

Dengan demikian, pada hakikatnya siapapun yang ada di dunia ini mereka pada awalnya merupakan muslim. Maka dari itu, tidak heran jika ada anak-anak yang belum baligh dari agama manapun meninggal, baik itu musyrik maupun ahlul kitab, maka mereka pun insya Allah masuk surga. Hal ini karena mereka masih dalam keadaan fitrahnya dan belum terbebani oleh hukum.

2. Orang Tualah yang Menjadi Sebab Berubahnya Fitrah Seseorang

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

“Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah. Maka, bapak ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nasrani, atau menjadikannya Majusi. Sebagaimana halnya hewan ternak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan sehat. Apakah Engkau lihat hewan itu terputus telinganya?” (HR Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, hewan ternak itu semula lahir dalam keadaan sehat tanpa cacat. Kemudian setelah lahir, terjadi perubahan, telinganya putus karena dipotong oleh manusia.

Demikian pula manusia, ia terlahir dalam keadaan fitrah (islam), tetapi karena keadaan orang tuanyalah atau karena pola pendidikan orang tuanyalah hingga terjadi perubahan pada diri anak manusia yang tidak sesuai dengan fitrahnya.

Orang tua yang Yahudi, Nasrani, atau Majusi akan dapat mengubah anaknya berubah menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Bukan itu saja, bahkan orang tua yang muslim pun akan dapat mengubah fitrah buah hatinya dari Islam menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, atau minimal berkarakter seperti Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Hadits Tentang Sunnah Fitrah

Kata fitrah dalam hadits juga dipakai untuk makna yang berbeda, yaitu sunnah fitrah yang menyangkut kebersihan diri.

3. Sunnah Fitrah ada Lima

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْآبَاطِ

“(Sunnah) fitrah ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur bulu ketiak, memendekkan kumis, dan memotong kuku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dua hadits pertama membahas seputar fitrah manusia saat lahir ke dunia. Nah 3 hadits berikutnya ini akan menjelaskan seputar sunnah fitrah bagi manusia.

Sunnah Fitrah adalah suatu tradisi yang jika dikerjakan akan menjadikan pelakunya sesuai dengan tabi’at yang telah Allah tetapkan bagi para hambanya, yang telah dihimpun bagi mereka, Allah menimbulkan rasa cinta (mahabbah) terhadap hal-hal tadi di antara mereka,  dan jika hal-hal tersebut dipenuhi akan menjadikan mereka memiliki sifat yang sempurna dan penampilan yang bagus.

Dalam hal ini, Rasulullah menjelaskan ada 5 sunnah fitrah yang harus dilakukan, yaitu sebagaimana yang sudah termaktub dalam hadits di atas.

4. Sunnah Fitrah ada Sepuluh

عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ قَالَ زَكَرِيَّاءُ قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ

“Ada sepuluh macam fitrah, yaitu memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” Zakaria berkata bahwa Mu’shob berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, aku merasa yang kesepuluh adalah berkumur.” (HR Muslim dan Abu Daud)

Penjelasannya kurang lebih sama dengan hadits nomor 3, hanya saja pada hadits ini Rasulullah menambahkan 5 sunnah fitrah lainnya yaitu memelihara jenggot, membasuh persendian, istinja’ dengan air, istinsyaq, dan berkumur.

5. Jangka Waktu Pelaksanaan Sunnah Fitrah adalah 40 Hari

وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَنَتْفِ الْإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Diberikan waktu bagi kami untuk mencukur kumis, bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur bulu kemaluan tidak lebih dari empat puluh hari.” (HR Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullah seolah menegaskan kepada ummatnya untuk betul-betul menjalankan sunnah fitrah yang termaktub di atas, bahkan beliau memberikan batasan waktu selama 40 hari, yang berarti itu menandakan perkara-perkara tersebut merupakan suatu hal yang penting.

Karena itu, bagi kita selaku seorang muslim, hendaknya memperhatikan untuk senantiasa menjalankan sunnah-sunnah fitrah tersebut. Selain akan mendapatkan pahala karena menjalankan perintah Baginda Nabi, tubuh kita pun akan tampak bersih dan sehat tentunya. Wallaahu A’lam

Kesimpulan

Lima belas hadits di atas membentuk satu rangkaian. Syahadat adalah pondasi Islam, syirik yang menjadi lawannya disebut kezaliman yang tidak Allah ampuni, dan hadits fitrah menegaskan bahwa manusia pada asalnya lahir di atas Islam sebelum orang tuanya mengubah keadaan itu.

Tiga hadits terakhir memakai kata fitrah dalam makna yang berbeda, yaitu sunnah fitrah. Dua di antaranya datang dengan riwayat yang tidak sama, lima perkara dan sepuluh perkara, dan keduanya kami tampilkan apa adanya. Wallaahu A’lam

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa bunyi dua kalimat syahadat menurut hadits?

Dalam hadits Jibril, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab pertanyaan tentang Islam dengan sabdanya, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah”, lalu menyebut shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji bagi yang mampu (HR. Muslim, no. 8).

Apa keutamaan mengucapkan dua kalimat syahadat?

Hadits pertama di halaman ini menyebut bahwa orang yang bersaksi demikian akan Allah masukkan ke dalam surga “bagaimanapun amal yang telah diperbuatnya” (HR Bukhari dan Muslim). Hadits kedua menyebut darah dan harta mereka menjadi terlindungi (HR Bukhari dan Muslim). Penjelasan pada hadits pertama menekankan bahwa syahadat tidak sekadar diucapkan, melainkan harus diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari.

Mengapa syirik disebut dosa yang paling besar?

Riwayat Abu Daud menempatkan kesyirikan sebagai kezaliman yang tidak Allah ampuni. Riwayat al-Bukhâri dan Muslim menyebutnya lebih dulu ketika Rasulullah menerangkan dosa-dosa yang paling besar, bersama durhaka kepada kedua orang tua dan perkataan dusta. Riwayat Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89 memasukkannya sebagai satu dari tujuh dosa yang membinasakan.

Benarkah setiap manusia lahir dalam keadaan Islam?

Menurut dua hadits di bagian fitrah, ya. Dalam hadis qudsi riwayat Muslim, Allah berfirman bahwa Dia menciptakan hamba-hamba-Nya dalam keadaan hunafa’, yang menurut penjelasan Imam An-Nawawi bermakna dalam keadaan Islam. Riwayat Bukhari dan Muslim menambahkan, “Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah. Maka, bapak ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nasrani, atau menjadikannya Majusi.”

Sunnah fitrah ada lima atau sepuluh?

Keduanya datang dari riwayat yang berbeda, dan halaman ini menampilkan dua-duanya apa adanya. Riwayat Bukhari dan Muslim menyebut fitrah ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur bulu ketiak, memendekkan kumis, dan memotong kuku. Riwayat Muslim dan Abu Daud menyebut sepuluh macam fitrah, dengan catatan perawinya sendiri lupa pada yang kesepuluh. Batas waktunya, menurut riwayat Muslim, tidak lebih dari empat puluh hari.

Baca juga:

Hadits Tentang Larangan Mendekati Zina dan Latinnya

Hadits Tentang Cita-cita

Hadits Tentang Ulang Tahun