Hadits Berbuat Baik kepada Sesama: 11 Tema dan Dalilnya

Hadits tentang kebaikan dan berbuat baik kepada sesama jumlahnya banyak, dan intinya bertemu pada satu kalimat: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Di halaman ini Anda menemukan 11 tema kebaikan, tolong-menolong, serta membantu sesama, berisi 18 kutipan riwayat lengkap dengan teks Arab, terjemahan, dan keterangan perawinya. Sebagian kutipan itu adalah varian atau potongan dari riwayat yang sama, jadi jumlah hadits aslinya lebih sedikit daripada jumlah kutipannya.

Seluruhnya kami kelompokkan menurut tema, bukan sekadar daftar berurutan, supaya Anda bisa langsung menuju bagian yang dicari: dari keutamaan menolong saudara, berbuat baik yang tampak sepele, sampai menutupi aib orang lain. Teks hadits disalin apa adanya sebagaimana tertulis pada artikel aslinya, termasuk keterangan perawinya.

1. Allah Menolong Siapa yang Menolong Saudaranya

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Muslim yang satu adalah saudara muslim yang lain; oleh karena itu ia tidak boleh menganiaya dan mendiamkannya. Barang siapa memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Barang siapa membantu kesulitan seorang muslim, maka Allah akan membantu kesulitannya dari beberapa kesulitannya nanti pada hari kiamat. Dan barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aib)nya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

Hadits ini adalah induk dari hampir semua dalil tentang menolong sesama, karena di dalamnya terkumpul tiga janji sekaligus: Allah mengurus kepentingan orang yang mengurus kepentingan saudaranya, melapangkan kesulitannya di hari kiamat, dan menutupi aibnya. Sebagai sesama saudara, sudah selayaknya seorang muslim membantu saudaranya yang sedang kesusahan — apabila ada yang kekurangan makanan, bantulah dengan memberi makanan; jika ada yang tertimpa musibah, tolong dan hiburlah mereka.

اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Dalam menjelaskan makna hadits di atas, Syekh ‘Abdulmuhsin al-‘Abbad al-Badr hafiẓahullāh berkata, “Di dalam hadits ini terdapat dorongan untuk memberikan pertolongan kepada saudara sesama muslim. Setiap pertolongan yang diberikan kepada saudaranya, niscaya dia akan mendapat balasan berupa pertolongan dari Allah. Kalimat dalam hadis ini adalah bagian dari jawāmi’ulkalim.”

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat.” (HR Muslim dan Ahmad)

Perhatikan bahwa balasannya setimpal tetapi dipindahkan waktunya: yang Anda lapangkan adalah kesusahan dunia, yang Allah lapangkan adalah kesusahan di hari Kiamat. Inilah yang membuat menolong orang lain tidak pernah menjadi kerugian, sekalipun di dunia Anda tidak menerima balasan apa pun dari orang yang ditolong.

2. Sebaik-baik Manusia Adalah yang Paling Bermanfaat

عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس »

Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda, ”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Thabrani dan Daruquthni)

Rasulullah SAW memberi ukuran yang sangat sederhana untuk menilai kualitas seseorang: seberapa besar manfaatnya bagi orang lain. Ukuran ini bisa dipenuhi siapa saja. Jika Anda punya kelebihan harta, salurkan lewat sedekah kepada yang membutuhkan. Jika tidak, manfaat itu bisa berupa ilmu, tenaga, atau keterlibatan dalam pembangunan masjid, jalan, dan kegiatan sosial lain.

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلَئِنْ أَمْشِي مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا فِي مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ

“Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah rasa senang (kebahagiaan) yang engkau masukkan ke dalam seorang muslim, atau menghilangkan kesulitannya, atau melunaskan hutang-hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan apabila saya berjalan menemani saudaraku untuk memenuhi keperluannya, itu lebih aku sukai daripada iktikaf selama sebulan di masjid Nabawi.” (HR Thabrani)

Bagian penutup hadits ini yang paling sering luput dibaca: menemani saudara mengurus keperluannya disebut lebih dicintai daripada iktikaf sebulan di Masjid Nabawi. Perbandingan itu menempatkan amal sosial sejajar — bahkan pada konteks ini didahulukan — dengan ibadah yang selama ini dianggap paling berat.

3. Berbuat Baik yang Tampak Sepele tetapi Berbuah Surga

….لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ، فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ، كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ…

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengisahkan, “Aku melihat seorang pria yang mendapatkan kenikmatan di surga karena sebuah pohon yang dipotongnya di badan jalan karena akan mengganggu orang lain.” (HR Muslim)

Berbuat baik kepada sesama tidak selalu berbentuk mendatangi orang lalu menolongnya secara langsung. Ia bisa juga tidak langsung, seperti menyingkirkan penghalang di jalan umum — duri, ranting, atau apa pun yang mengganggu pengguna jalan. Jika perbuatan sekecil itu bisa mengantarkan seseorang pada kenikmatan surga, bagaimana dengan menolong banyak orang sekaligus?

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasûlullâh SAW bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha illallâh, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu termasuk bagian dari iman.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menempatkan menyingkirkan gangguan dari jalan sebagai cabang iman yang paling ringan — bukan sebagai amal di luar keimanan. Artinya, berbuat baik kepada sesama tidak pernah berdiri terpisah dari iman seseorang; ia adalah bagian paling dasar darinya.

4. Membantu Sesama Terhitung Sedekah, Meski Tanpa Harta

كُلُّ سُلامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقةٌ ، كُلَّ يَوْمٍ تَطلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ : تَعدِلُ بَينَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ، فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا ، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقةٌ ، والكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقةٌ ، وبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقةٌ ، وتُمِيْطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ

“Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Inilah jawaban bagi siapa pun yang merasa tidak bisa bersedekah karena tidak punya harta. Hadits ini menyebut mendamaikan dua orang yang berselisih, membantu mengangkat barang, berkata baik, sampai menyingkirkan rintangan di jalan — semuanya dihitung sedekah. Bantuan berupa tenaga dan waktu punya nilai yang sama, dan ia dituntut setiap hari.

5. Meringankan Beban Utang Orang Lain

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ ، أَظَلَّهُ اللهُ فِـيْ ظِلِّهِ

“Barangsiapa memberi kelonggaran waktu kepada orang yang kesulitan membayar hutang atau menghapus hutangnya, maka Allâh akan menaunginya dalam naungan-Nya.” (HR Muslim)

كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ ، فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ : تَـجَاوَزُوْا عَنْهُ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا ، فَتَجَاوَزَ اللهُ عَنْهُ

“Dahulu ada seorang pedagang yang selalu memberikan pinjaman kepada manusia. Jika ia melihat orang itu kesulitan membayar hutangnya, ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Bebaskanlah hutangnya, mudah-mudahan Allâh memaafkan kita (dari dosa-dosa),’ maka Allâh pun memaafkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dua riwayat ini berbicara tentang satu bentuk pertolongan yang sering terlewat: menahan diri untuk tidak menagih. Memberi tenggat kepada orang yang sedang kesulitan, apalagi menghapus utangnya, diganjar naungan Allah dan ampunan. Bagi Anda yang pernah meminjamkan uang, di sinilah letak amal yang tidak perlu mengeluarkan sepeser pun tambahan.

6. Memudahkan Urusan Orang yang Sedang Kesulitan

وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim.” (HR Muslim)

Jika Anda ingin mendapatkan kemudahan dalam menjalani kehidupan dunia, maka salah satu caranya adalah dengan memudahkan orang lain. Betapa banyak kisah-kisah inspiratif yang mengisahkan bahwa setelah membantu orang lain, urusan-urusan hidup menjadi lebih lancar dan terasa ringan.

7. Menutupi Aib Saudara Juga Termasuk Menolong

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim)

Tidak ada manusia yang tanpa kekurangan. Ketika Anda mengetahui aib seseorang, menahan diri untuk tidak menyebarkannya adalah bentuk pertolongan — dan ganjarannya setimpal: Allah menutup aib Anda sendiri, di dunia maupun di akhirat.

8. Allah Menyayangi Hamba yang Penyayang

وَإِنَّـمَـا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

“Sesungguhnya Allâh menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan urutannya: kasih sayang Allah turun kepada hamba yang lebih dahulu menyayangi sesama. Jika Anda menginginkan rahmat itu, jalannya bukan menunggu, melainkan mendahulukan kebaikan kepada orang lain.

9. Berbuat Kebajikan Melindungi Pelakunya dari Kesudahan Buruk

صَنَائِعَ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السَّوْءِ

“Berbuat kebajikan (kepada orang lain) melindungi pelakunya dari mendapatkan kesudahan buruk.” (HR Suyuthi)

Membantu sesama merupakan aktivitas yang akan mendatangkan berbagai keutamaan dari Allah. Di antaranya adalah melindungi para pelakunya dari mendapatkan hal-hal buruk, termasuk menghindarkan diri dari su’ul khatimah (kematian yang buruk).

10. Rasulullah SAW Tidak Pernah Menolak Permintaan

مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ فَقَالَ لَا

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimintai sesuatu (yang beliau mau), beliau tidak pernah menjawab: ‘Tidak’.” (HR Muslim)

Nabi SAW menyandang kedudukan sebagai rasul, pemimpin, panglima, ayah, kakek, sekaligus guru — dan tidak satu pun dari kedudukan itu beliau jadikan alasan untuk merasa gengsi menolong orang lain.

لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي، قَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ: كَلَّا أَبْشِرْ، فَوَاللهِ، لَا يُخْزِيكَ اللهُ أَبَدًا، وَاللهِ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتُكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Aku (Muhammad) benar-benar khawatir pada diriku.” Khadijah menghibur beliau dengan berkata, “Sekali-kali tidak, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tidak ada, menjamu tamu dan senantiasa membela kebenaran.” (HR Muslim)

Peristiwa ini terjadi saat Rasulullah SAW pulang dari Gua Hira setelah menerima wahyu pertama. Yang menarik, Khadijah menenangkan suaminya bukan dengan dalil, melainkan dengan mendaftar kebiasaan sosial beliau — termasuk tahmilul kall, memikul beban orang lain. Artinya, kebiasaan menolong sesama sudah melekat pada diri beliau bahkan sebelum diangkat menjadi nabi.

11. Nikmat Bertahan Selama Disalurkan kepada Orang Lain

إِنَّ لِلَّهِ عَبَّادًا اخْتَصَّهُمْ بِالنِّعَمِ لِمَنَافِعِ الْعِبَادِ، يُقِرُّهُمْ فِيهَا مَا بَذَلُوهَا، فَإِذَا مَنَعُوهَا نَزَعَهَا مِنْهُمْ، فَحَوَّلَهَا إِلَى غَيْرِهِمْ

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba yang dikhususkan dengan diberikan nikmat karena memberikan manfaat kepada hamba-hamba yang lain, dan Allah terus memberikan nikmat selama dia senantiasa melakukannya (membantu orang lain). Apabila dia pelit, maka akan dicabut nikmat tersebut dari mereka, sehingga Allah memindahkannya kepada yang lain.” (HR Thabrani)

Hadits ini memberi cara pandang yang jarang dipakai: sebagian nikmat diberikan bukan semata untuk pemiliknya, melainkan supaya mengalir ke orang lain melalui dirinya. Selama disalurkan, nikmat itu bertahan; ketika ditahan, ia dipindahkan kepada orang lain.

إِذْ جَاءَ رَجُلٌ يَسْأَلُ، أَوْ طَالِبُ حَاجَةٍ، أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ: «اشْفَعُوا فَلْتُؤْجَرُوا، وَلْيَقْضِ اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا شَاءَ»

Disebutkan dari Abu Musa Al-Asy’ari, apabila ada seorang laki-laki datang kepada beliau untuk suatu keperluan atau meminta suatu kebutuhan, maka beliau menghadapkan wajahnya kepada para sahabat, lalu bersabda: “Berikanlah pertolongan agar kalian saling memperoleh pahala dan semoga Allah melaksanakan apa yang disenangi-Nya melalui ucapan nabi-Nya.” (HR Bukhari)

Perhatikan bahwa Nabi SAW tidak langsung memenuhi sendiri permintaan itu, melainkan melibatkan para sahabat lebih dahulu. Beliau sengaja membuka pintu pahala bagi orang lain — sebuah isyarat bahwa mengajak orang lain ikut menolong juga bagian dari menolong.

Kesimpulan

Sebelas tema di atas bertemu pada satu garis: dalam Islam, berbuat baik dan menolong sesama bukan amal tambahan, melainkan bagian dari iman sekaligus ukuran kualitas seorang manusia. Bentuknya sangat luas — harta, tenaga, waktu, ucapan yang baik, menahan diri dari menagih utang, sampai menutup aib orang lain — sehingga tidak ada muslim yang benar-benar punya alasan untuk tidak melakukannya.

Balasan yang dijanjikan pun berulang polanya: apa yang Anda lakukan untuk orang lain, Allah lakukan untuk Anda. Melapangkan kesusahan dibalas kelapangan, menutup aib dibalas tertutupnya aib, memudahkan urusan orang yang kesulitan dibalas kemudahan di dunia dan akhirat.

FAQ

Q1: Apa hadits paling terkenal tentang membantu sesama?
Yang paling sering dikutip adalah sabda Nabi SAW “sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR Thabrani dan Daruquthni), serta “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya” (HR Muslim).

Q2: Bagaimana jika saya ingin membantu tetapi tidak punya uang?
Hadits “kullu sulama” (HR Bukhari dan Muslim) menyebut mendamaikan orang yang berselisih, membantu mengangkat barang, berkata baik, dan menyingkirkan rintangan di jalan sebagai sedekah. Bantuan berupa tenaga dan ucapan tetap bernilai sedekah.

Q3: Apakah menolong non-muslim juga dianjurkan?
Sebagian besar riwayat di atas menyebut “saudara” dan “muslim”, tetapi hadits “khairun naas anfa’uhum lin naas” memakai kata an-naas (manusia) secara umum. Pembahasan rincinya berbeda-beda antarulama, jadi rujuklah kepada ustaz atau lembaga fatwa yang Anda percayai untuk kasus tertentu.

Q4: Apa saja balasan berbuat baik menurut hadits-hadits di atas?
Yang disebut langsung oleh riwayat-riwayat di halaman ini: dilapangkan satu kesusahan di hari Kiamat, dinaungi Allah dalam naungan-Nya bagi yang memberi kelonggaran utang, ditutup aibnya di dunia dan akhirat, dimudahkan urusannya di dunia dan akhirat, serta nikmat yang terus bertahan selama disalurkan kepada orang lain.

Catatan Redaksi

23 September 2026 — Panduan ini menggabungkan beberapa tulisan hadits Halalan.id yang sebelumnya terbit terpisah — artikel tentang berbuat baik kepada sesama manusia, tentang membantu sesama, dan tentang membantu orang lain — menjadi satu halaman berisi 11 tema dengan 18 kutipan riwayat. Seluruh teks Arab, terjemahan, dan keterangan perawi disalin apa adanya dari artikel aslinya, lalu dikelompokkan per tema agar lebih mudah ditelusuri. Artikel-artikel lama itu kini dialihkan ke halaman ini.

Baca juga:

Hadits Tentang Berlomba-lomba dalam Kebaikan

Hadits Tentang Memelihara Anak Yatim

Hadits Tentang Orang yang Membenci Kita