Kode E Halal atau Haram? Yang Perlu Dicek dan Yang Tidak

Hampir setiap tahun beredar daftar kode E yang disebut mengandung babi, lengkap dengan deretan angka dan ajakan untuk menyebarkannya. Daftar semacam itu keliru pada premis dasarnya, dan menyebarkannya justru menyulitkan pembaca.

Penjelasan ringkasnya: kode E adalah kode bahan tambahan pangan yang diterbitkan Uni Eropa. Ia menunjukkan bahan apa yang dipakai, bukan dari mana bahan itu berasal. Satu kode yang sama bisa berasal dari tumbuhan, hewan, atau proses sintetis.

Artikel ini menjelaskan apa arti kodenya, kenapa daftar yang beredar menyesatkan, deret mana yang memang layak diperhatikan, dan cara memastikannya tanpa menebak.

Apa Itu Kode E dan Dari Mana Asalnya

Kode E adalah sistem penomoran yang dikeluarkan Uni Eropa untuk bahan tambahan pangan — pewarna, pengawet, pengental, penstabil, pengemulsi, dan sejenisnya. Huruf E merujuk pada Europe, bukan pada sesuatu yang lain.

Tujuan awalnya administratif, bukan keagamaan. Sistem ini dibuat supaya bahan tambahan punya identitas tunggal yang berlaku lintas negara dan lintas bahasa, sehingga tidak perlu menulis nama kimianya yang panjang pada kemasan.

Konsekuensinya penting untuk dipahami: satu nomor mewakili satu jenis bahan, bukan satu asal bahan. Gliserol tetap bernomor sama entah ia dibuat dari minyak sawit, dari lemak hewan, atau dari proses sintetis di pabrik kimia.

Karena itu, membaca nomornya saja tidak akan pernah memberi tahu Anda status halalnya. Nomor itu menjawab pertanyaan “apa”, sedangkan yang Anda butuhkan adalah jawaban atas pertanyaan “dari apa”.

Kenapa Daftar Kode E Haram yang Viral Menyesatkan

LPPOM MUI pernah menanggapi langsung isu ini dan menyatakan bahwa kode E tidak dapat mengidentifikasikan bahwa suatu bahan mengandung babi. Pernyataan itu menjawab persis premis yang dipakai daftar-daftar viral tersebut.

Ada tiga kerusakan yang ditimbulkan daftar semacam itu.

Pertama, ia memvonis bahan yang tidak bersalah. Sebagian besar kode dalam daftar itu bahkan tidak punya kemungkinan berasal dari hewan sama sekali — banyak pewarna dan pengawet yang murni sintetis atau berasal dari tumbuhan.

Kedua, ia memberi rasa aman yang palsu. Pembaca yang menghafal sepuluh nomor dalam daftar lalu merasa sudah aman, padahal titik kritis yang sebenarnya bisa ada pada bahan yang tidak bernomor E sama sekali, seperti gelatin, kaldu, atau lemak.

Ketiga, ia memindahkan beban ke tempat yang salah. Pembaca jadi sibuk membaca angka di kemasan, padahal ada cara yang jauh lebih pasti dan lebih cepat, yaitu memeriksa sertifikatnya.

Pola ini sebenarnya mirip dengan kekeliruan membaca tanda lain pada kemasan, yang kami bahas di no pork no lard bukan sertifikat halal.

Deret Kode E yang Memang Perlu Diperhatikan

Meski kodenya tidak menunjukkan asal, ada sebagian deret yang memang berpotensi berasal dari hewan, sehingga layak ditelusuri. Ini daftar yang jauh lebih pendek daripada yang beredar.

Deret kode E yang berpotensi berasal dari hewan: E422, E430-E463, E470-E495, E334, dan E120
Deret yang layak ditelusuri jauh lebih pendek daripada daftar yang beredar.
KodeJenis bahanKenapa perlu dicek
E422Gliserol atau gliserinDapat dibuat dari lemak nabati maupun hewani
E430–E463Asam lemak dan turunannyaSebagian berpotensi berasal dari lemak hewan
E470–E495Garam dan ester asam lemakKelompok terbesar yang perlu ditelusuri, termasuk E471
E334Asam tartaratLazim diperoleh sebagai hasil samping industri wine
E120Karmin atau kokinealPewarna merah yang berasal dari serangga, dan status fiqihnya diperselisihkan

Perhatikan kata “dapat” dan “berpotensi” pada tabel itu. Tidak satu pun baris di atas berarti bahan tersebut pasti dari hewan, apalagi pasti dari babi. Yang dinyatakan hanya bahwa pertanyaannya relevan untuk diajukan.

Perlu ditambahkan bahwa E334 bukan soal kandungan alkoholnya. Asam tartarat yang dihasilkan dari proses itu tidak membawa serta sifat khamr, dan yang dipersoalkan sebagian kalangan adalah keterkaitan prosesnya dengan industrinya, bukan zatnya.

Satu hal lagi yang berguna disadari: kode E justru menandakan bahan itu terdaftar dan diatur, bukan sebaliknya. Bahan tambahan yang punya nomor adalah bahan yang sudah dikaji dan diizinkan pemakaiannya pada batas tertentu. Kehadiran nomor pada kemasan karena itu bukan tanda bahaya, melainkan tanda bahwa produsennya menuliskan apa yang dipakainya.

E471, Kode yang Paling Sering Ditanyakan

Dari semua kode, inilah yang paling sering muncul di kolom pertanyaan, karena ia ada di banyak sekali produk sehari-hari — krimer, roti, es krim, margarin, biskuit.

E471 adalah mono dan digliserida asam lemak, yang berfungsi sebagai pengemulsi: ia membuat minyak dan air mau bercampur dan tidak memisah kembali.

Menurut penjelasan LPPOM MUI, E471 dapat berasal dari lemak nabati maupun hewani. Bila berasal dari nabati, bahannya dipastikan halal. Bila berasal dari hewan, status halalnya bergantung pada jenis hewannya dan cara penyembelihannya — hewan halal yang disembelih secara syar’i menghasilkan bahan yang halal, sedangkan hewan yang haram tentu sebaliknya.

Dalam praktik industri pangan Indonesia, sumber nabati jauh lebih lazim, terutama karena minyak sawit tersedia melimpah dan jauh lebih murah daripada lemak hewani. Itu bukan jaminan, tetapi ia menjelaskan kenapa kepanikan terhadap E471 biasanya tidak sebanding dengan kenyataannya.

Pertanyaan susulan yang wajar: kalau begitu bagaimana cara tahu E471 pada sebuah produk berasal dari mana? Jawaban jujurnya, dari kemasan saja tidak bisa. Informasi itu ada pada dokumen bahan yang dipegang produsen dan pemasoknya, bukan pada label. Di sinilah bagian berikut menjadi penting.

Kalau Produknya Sudah Bersertifikat Halal

Bagian ini menyelesaikan hampir seluruh pembahasan di atas, dan sering terlewat.

LPPOM MUI menyatakan bahwa untuk produk yang komposisinya memuat kode E namun sudah berlogo halal, sumber bahan tersebut sudah dipastikan berasal dari sumber yang halal. Artinya, proses sertifikasi justru menelusuri sampai ke level inilah — ke asal setiap bahan tambahan, termasuk yang bernomor E.

Jadi urutan yang masuk akal adalah kebalikan dari yang biasa dilakukan orang. Alih-alih membaca deretan angka di komposisi lalu mencocokkannya dengan daftar di internet, periksa dulu apakah produknya bersertifikat. Bila ya, pekerjaan membaca angka itu sudah dikerjakan auditor yang punya akses ke dokumen bahannya.

Membaca komposisi tetap berguna, tetapi tempatnya adalah pada produk yang belum bersertifikat. Pertimbangan untuk produk semacam itu kami uraikan di belum bersertifikat halal apakah haram.

Catatan tentang Sumber dan Perubahan Kelembagaan

Penjelasan LPPOM MUI yang kami kutip di atas berasal dari rentang 2013 sampai 2016, ketika isu daftar kode E ramai dibicarakan. Kami menyebutkan ini supaya Anda bisa menimbangnya sendiri.

Penjelasan teknisnya sendiri tidak kedaluwarsa, karena ia menyangkut sifat sistem penomoran dan asal bahan — dua hal yang tidak berubah. Yang berubah adalah jalur kelembagaannya: kewenangan penerbitan sertifikat halal kini ada pada BPJPH, sementara lembaga pemeriksa halal menjalankan pemeriksaannya.

Artinya, bila Anda hendak memverifikasi sebuah produk hari ini, yang Anda cari bukan lagi logo lama melainkan sertifikat yang terdaftar di basis data BPJPH.

Cara Mengeceknya Sendiri

  1. Cek sertifikat halalnya lebih dulu di basis data BPJPH. Ini langkah yang paling menentukan dan paling cepat. Panduannya ada di cara cek sertifikat halal produk.
  2. Bila belum bersertifikat, baru baca komposisinya, dan batasi perhatian pada deret di tabel atas, bukan pada semua angka.
  3. Perhatikan juga bahan tanpa kode E seperti gelatin, lemak, kaldu, dan enzim, yang justru lebih sering menjadi titik kritis sebenarnya. Contoh penelusurannya ada di gelatin bovine hide.
  4. Hubungi produsennya bila ragu. Banyak produsen mencantumkan layanan konsumen dan bersedia menjelaskan asal bahannya.
  5. Jangan sebarkan daftar yang Anda terima sebelum memeriksanya. Daftar kode E yang beredar hampir selalu merupakan salinan dari salinan tanpa sumber yang bisa ditelusuri.

Bahan Tanpa Kode E yang Justru Lebih Menentukan

Ini bagian yang paling sering terlewat oleh pembaca yang fokus pada angka, dan justru di sinilah titik kritis sebenarnya lebih sering berada.

Bahan-bahan berikut lazim ditulis dengan nama biasa pada komposisi, tanpa nomor apa pun, padahal potensinya berasal dari hewan jauh lebih besar daripada kebanyakan kode E.

  • Gelatin — dipakai pada permen kenyal, yogurt, kapsul, dan marshmallow. Sumbernya bisa sapi, ikan, atau babi, dan namanya di kemasan sering ditulis tanpa keterangan asal.
  • Lemak dan shortening — ditulis sebagai lemak nabati, lemak hewani, atau sekadar shortening pada produk bakery.
  • Enzim dan rennet — dipakai pada pembuatan keju, dan dapat berasal dari lambung hewan, mikroba, atau tumbuhan.
  • Whey dan turunan susu — umumnya tidak bermasalah, tetapi whey hasil pembuatan keju mewarisi pertanyaan tentang rennet yang dipakai.
  • Kaldu dan perisa daging — lazim pada mi instan dan makanan ringan, dan asal dagingnya tidak selalu disebutkan.
  • L-sistein — pelembut adonan roti yang sumbernya bisa sintetis maupun hewani.

Perbandingannya menjelaskan kenapa strategi menghafal kode E kurang berguna. Seseorang bisa menolak sekaleng minuman karena melihat satu nomor E yang sebenarnya pewarna nabati, lalu di hari yang sama memakan permen bergelatin tanpa bertanya apa pun, karena kata “gelatin” tidak terdengar seperti kode.

Kesimpulan praktisnya sederhana: bila Anda memang hendak membaca komposisi, baca namanya, bukan hanya angkanya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah kode E menandakan produk mengandung babi?

Tidak. LPPOM MUI menyatakan kode E tidak dapat mengidentifikasikan bahwa suatu bahan mengandung babi. Kode itu menunjukkan jenis bahan tambahannya, bukan asal bahannya.

Apakah E471 halal?

Bergantung sumbernya. E471 dapat dibuat dari lemak nabati maupun hewani. Dari nabati halal; dari hewan bergantung pada jenis hewan dan cara penyembelihannya. Pada produk bersertifikat halal, asalnya sudah diperiksa.

Kode E mana saja yang perlu diperhatikan?

Yang berpotensi berasal dari hewan, terutama E422, deret E430–E463, deret E470–E495, serta E334 dan E120. Selebihnya umumnya tidak relevan dengan pertanyaan halal.

Kalau produk sudah bersertifikat halal, perlukah saya cek kode E-nya?

Tidak perlu. Menurut LPPOM MUI, pada produk bersertifikat, sumber bahan bernomor E sudah dipastikan halal karena diperiksa dalam proses sertifikasi.

Apakah daftar kode E haram yang beredar di media sosial bisa dipercaya?

Tidak. Daftar semacam itu bertumpu pada premis yang keliru, yaitu bahwa nomor menunjukkan asal bahan. Ia memvonis bahan yang tidak bermasalah sekaligus melewatkan titik kritis yang sesungguhnya.

Penutup

Daftar kode E yang beredar bertahan begitu lama karena ia menawarkan sesuatu yang terasa memberdayakan: cukup hafal sepuluh angka, dan Anda merasa bisa menilai isi rak swalayan sendiri.

Sayangnya informasi yang dijanjikannya tidak ada pada angka itu. Nomor pada kemasan menjelaskan bahan apa yang dipakai, dan asal bahan hanya diketahui lewat dokumen yang tidak dicetak di kemasan mana pun.

Kabar baiknya, dokumen itu sudah ada dan terbuka. Memeriksa satu nomor sertifikat memerlukan waktu yang kurang lebih sama dengan membaca satu daftar viral, dan hasilnya jauh lebih bisa diandalkan.

Satu langkah untuk hari ini: ambil satu produk kemasan di dapur Anda yang komposisinya memuat kode E, lalu cari nama produknya di basis data BPJPH. Bila sertifikatnya ada, angka-angka itu tidak perlu Anda khawatirkan lagi.

Bagaimana kami memeriksa status halal dan izin edar produk: baca Metodologi Verifikasi & Kebijakan Koreksi Halalan.id.